BerandaSEJARAHBebehas, Tradisi Gotong Royong di Muara Enim

Bebehas, Tradisi Gotong Royong di Muara Enim

Indonesia yang dikenal memiliki masyarakat yang beragam menciptakan tradisi gotong royong yang lekat dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari.

Di Kabupaten Muara Enim, terdapat tradisi gotong royong yang tetap dipertahankan secara turun temurun. Tradisi tersebut bernama Bebehas.

Tradisi Bebehas dilakukan saat suatu keluarga akan mengadakan hajat seperti pernikahan atau biasa disebut dengan ngantenkan. Tradisi ini dilakukan untuk membantu meringankan beban keluarga yang memiliki hajat.

Tradisi Bebehas hanya dilakukan oleh kaum perempuan. Tradisi yang dilakukan dengan bergotong-royong ini dibagi menjadi beberapa tahapan.

Tahap awal yaitu mengirik, istilah masyarakat Muara Enim untuk proses memisahkan padi pada tangkainya. Lalu, gabah yang sudah terpisah dari tangkainya tersebut dijemur. Tahap ini disebut dengan mengisal.

Tahap selanjutnya, gabah yang sudah dijemur kemudian ditumbuk dengan menggunakan lesung. Proses ini dilakukan untuk memisahkan bulir padi dengan kulitnya.

Setelah terkelupas, bulir padi ditampi dengan isaram, sebutan masyarakat Muara Enim untuk alat menampi padi yang terbuat dari balok kayu.

Hasil padi tadi lah yang dibawa ke tempat tuan rumah yang akan mengadakan hajat untuk tahapan terakhirnya. Sebagai ungkapan terima kasih, pemilik hajat akan memberikan oleh-oleh berupa bakul yang berisi berbagai bahan makanan, seperti gula, kopi, dan minyak goreng.

Kini, tradisi Bebehas makin tergerus oleh kemajuan zaman dan teknologi. Tradisi ini semakin sulit ditemui karenakan pola hidup guyub dan bergotong royong yang makin terpinggirkan.

Pola hidup individualistis mulai menggantikan nilai-nilai luhur masyarakat Muara Enim yang guyub, saling menghormati, dan bersyukur atas limpahan berkah yang diberikan Tuhan. Nilai-nilai yang menjadi akar dari tradisi Bebehas.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Most Popular