SERANG – Tradisi Seba biasanya rutin dilakukan oleh masyarakat Baduy setiap tahunnya. Namun, sejak dua tahun terakhir, ritual ini tertunda akibat pandemi. Seba Baduy Tahun ini digelar sejak tanggal 5-8 Mei 2022.
Dalam Seba Baduy terdapat kegiatan yang masyarakat baduy lakukan dalam rangkaian kegiatannya salah satunya mengunjungi Banten Lama.
Salah satu yang menjadi perhatian Jaro Saidi Putra adalah, turunnya moncong meriam Ki Amuk yang terdapat di Museum Kepurbakalaan Banten Lama, yang berlokasi di Jl. Raya Serang-Jakarta, Banten, Kecamatan Serang, Kota Serang, dekat Masjid Agung Banten dan Istana Surosowan.
Menurutnya pertanda tersebut memberikan kabar buruk akan menimpa daerah tempat meriam berada, dalam hal ini adalah Kota Serang dan Provinsi Banten.
“Biasanya tanda tanda peringatan juga, kalo itu turun kalo ngejebur kalaut kumaha tuh, karena sejarahnya seperti itu. Dari tahun 2021 ke 2022 itu turun 2 centi. Kejadian di atas 2015 itu udah kayak mau dibikin lumpur. Tadi juga ada yang mau nangis melihat keadaan di banten lama,” ujar Jaro Saidi Putra yang merupakan Jaro Tanggungan 12.
Saidi Putra menjelaskan pertanda buruk berkaitan dengan air yang akan menimpa daerah kota serang dimulai dari kejadian banjir yang menerjang kota Serang.
Meski demikian Jaro yang akrab dipanggil Ayah Saidi mengatakan bahwa hal tersebut tidak akan terjadi jika masyarakat Banten menjaga kelestarian alam dan lingkungan.
Ia pun berpesan kepada pemerintah agar senantiasa menjaga 3 gunung yang dapat menjaga Provinsi Banten.
“Kami titip Gunung Karang, Asepan jeng Pulosasri. Ulah dirusak, ngajaga alam lain hanya urang baduy tapi sakabeh masyarakat (Kami titip Gunung Karang, Asepan dan Pulosari. Jangan dirusak, menjaga alam bukan tugas Baduy saja, tapi semua masyarakat,” ungkap Jaro Saidi Putra.
Menurut Saidi, tradisi seba inì sudah ada dari ratusan tahun silam yang dilakukan oleh para leluhurnya.
Dalam seba ini, pihaknya mengigatkan kepada warga lainnya untuk terus menjaga kelestarian alam guna menghindari adanya bencana alam.
“Seba ini peringatan kepada kita yang mempunyai lingkungan, ini wajib bagi semua bukan hanya kami sebagai warga baduy, karena dampak dari ruksanya alam akan membawa bencana,” pungkasnya. (Ls)





