Tahukah, Semut Sudah Bercocok Tanam Sejak 3 Juta Tahun Lalu

Ternyata manusia bukanlah satu-satunya makhluk hidup di Bumi yang mengenal teknik bercocok tanam. Ternyata, semut lah makhluk hidup pertama yang mengenal dan mempraktekkan kegiatan tersebut, demikian dilansir Mother Nature Network 2016 lalu.

Manusia disebutkan sudah mengenal teknik bercocok tanam sejak sekitar 10.000 tahun yang lalu, tetapi para ahli menemukan bahwa koloni semut telah melakukan teknik bercocok tanam lebih lama dari manusia, yaitu sejak 3 juta tahun lalu.

“Semut bisa dibilang lebih cerdas dari yang kita pikir, kita sebut mereka organisme super karena mereka membentuk jaringan-jaringan yang mirip dengan otak manusia,” ujar Kirsti Abbott, peneliti dari University of New England, Australia.

Anda pernah menyaksikan film kartun anak-anak A Bugs Life? Film itu mengisahkan kehidupan dalam dunia semut yang terkenal hidup bergotong-royong. Mereka selalu bekerja sama dalam beraktivitas, seperti mencari dan membawa makanan untuk disimpan dan disantap bersama.

Berdasarkan hasil studi terbaru yang dinukil Phys, kisah A Bugs Life sepertinya terjadi juga di dunia nyata. Koloni semut di Kepulauan Fiji, yakni Philidris nagasauditemukan menumbuhkan buah-buahan tropis mereka sendiri.

Koloni semut ini mengumpulkan benih buah dari enam jenis tanaman Squamellaria, lalu benih diletakkan di celah yang mereka temukan pada pohon tersebut.

Mereka secara teratur mengunjungi dan memeriksa bibit yang sedang ditanam lalu membentuk ruang kosong di dalam pohon. Ruang kosong ini digunakan para semut untuk buang air besar. Kotoran semut ini dapat menyuburkan tanaman muda dan membantu pertumbuhannya.

Ketika tanamannya berkembang, ruang kosong bisa digunakan menjadi tempat bersarang dan berlindung bagi koloni semut.

Squamellaria disebut tumbuhan epifit, jenis flora yang tumbuh dengan menumpang pada tumbuhan lain. Jenis tumbuhan itu biasanya menempel pada pohon, bergantung pada dukungan struktural mereka namun tidak untuk air atau makanan, yang mereka ekstrak dari udara dan hujan.

Tentu saja, simbiosis antara semut dan tumbuhan telah diamati sebelumnya. Hubungan semut dan tumbuhan layaknya simbiosis mutualisme yang artinya saling bergantung dan salah satunya tidak bisa hidup tanpa yang lain.

Para ilmuwan menemukan bahwa tanaman Squamellariasepenuhnya bergantung pada semut untuk menanam dan menyuburkan benih mereka. Pada saat yang bersamaan, semut Philidris nagasau juga tidak dapat hidup tanpa makanan dan perlindungan yang disediakan oleh tanaman.

Fenomena semut Fiji ini adalah contoh dokumentasi pertama yang menjelaskan hubungan mutualisme antara tanaman dan semut.

Fiji mungkin bukan satu-satunya tempat di mana semut bercocok tanam. Australia juga dikabarkan memiliki populasi semut yang mengumpulkan buah-buahan serta tanaman tertentu.

Namun, hingga kini belum dapat dipastikan kenapa semut hanya tertarik dengan tanaman tertentu dan bukan yang lainnya.[]

(Visited 19 times, 1 visits today)

Artikel Terkait

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.