Indonesia meruapak negara yang kaya akan budaya, suku, maupun bahasa, tentunya hal ini membuat Indonesia kaya akan tradisi masyarakatnya. Salah satu tradisi warisan leluhur yang kental akancorak budaya dan agama ialah Rampak Bedug, yaitu sebuah kesenian perkusi dari Kabupaten Pandeglang, Banten. Keunikan dari rampak bedug adalah adanya nuansa nada islami diingiri seni bela diri di setiap pertunjukan yang digelar.
Pada tahun 1950 Rampak Bedug merupakan tradisi untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan oleh warga Pandeglang, masyarakat akan menyaksikan rampak bedug di masjid-masjid lingkungan mereka pada hari terakhir bulan Sya’ban menjelang pelaksanaan salat tarawih. Dan digelar pada hari terakhir Ramadhan untuk menyambut hari Raya Idul Fitri.
Rampak Bedug merupakan suatu kreasi seni yang genial dan mengundang perhatian penonton, maka seni rampak bedug ini berubah menjadi suatu seni yang layak jual, dan memandang seni rampak bedug sebagai sebuah karya seni yang patut dihargai. Jika dulu rampak bedug hanya dimainkan oleh laki-laki, kini setiap pertunjukan para pemain rampak bedug yang terdiri dari 12 orang (6 laki-laki dan 6 perempuan) menabuh bedug secara bergantian.
Momen menarik dan ditunggu-tunggu oleh penonton adalah adanya atraksi dari para penabuh yang dilakukan secara serentak. Para lelaki akan menunjukkan kemampuan mereka dalam memainkan irama musik sambil menaiki bedug berukuran cukup besar yang mereka mainkan.
Rampak Bedug dapat dikatakan sebagai pengembangan dari seni bedug atau ngadulag. Bila ngabedug dapat dimainkan oleh siapa saja, maka Rampak Bedug hanya bisa dimainkan oleh para pemain profesional. Rampak bedug bukan hanya dimainkan di bulan Ramadhan, tapi dimainkan juga secara profesional pada acara-acara hajatan (hitanan, pernikahan) dan hari-hari peringatan kedaerahan bahkan nasional. Rampak bedug merupakan pengiring Takbiran, Ruwatan, Marhabaan, Shalawatan (Shalawat Badar), dan lagu-lagu bernuansa religi lainnya.
Busana yang dipakai oleh pemain rampak bedug adalah pakaian Muslim dan Muslimah yang disesuaikan dengan perkembangan zaman dan unsur kedaerahan. Pemain laki-laki misalnya mengenakan pakaian model pesilat lengkap dengan sorban khas Banten, tapi warna-warninya menggambarkan kemoderenan, dan untuk pemain perempuan mengenakan pakaian khas tari-tari tradisional, tapi bercorak kemoderenan dan relatif religius.
Tak hanya menampilkan nilai kesenian, Ramoak Bedug juga mengandung nilai Religi, yakni menyemarakan bulan suci Ramadhan dengan alat-alat yang memang dirancang para ulama pewaris Nabi. Selain menyemarakan Tarawihan juga sebagai pengiring Takbiran dan Marhabaan, serta memiliki unsur hiburan.[Nada]




