Orang-orang Tionghoa Punya Peran Penting dalam Sumpah Pemuda 1928

Tanpa banyak diketahui masyarakat, orang-orang Tionghoan punya peran penting pada peristiwa bersejarah Sumpah Pemuda 1928 yang terjadi hari ini 92 tahun lalu. Salah satu pemuda yang turut andil adalah Sie Kong Lian. Ia membrikan memberikan rumahnya sebagai tempat untuk menggelar rapat Sumpah Pemuda.

Catatan tersebut disampaikan Azmi Abubakar, pendiri Museum Pusaka Peranakan Tionghoa, pada akhir pekan kemarin. Pada webinar bertajuk Nasionalisme dan Peran Tionghoa, Peran Tionghoa sejak Sumpah Pemuda, Masa Kini dan Masa Depan yang digelar NKRI OZ Community Inc bekerjasama dengan Forum Masyarakat Indonesia di Australia (FMIA) ini untuk memperingati 92 tahun Sumpah Pemuda.

Siauw Tiong Djin, peraih gelar PhD Ilmu Politik Monash University di Melbourne, Australia, yang juga hadir sebagai pembicara menyatakan, banyak stereotipe yang beredar tentang Tionghoa yang bertentangan dengan fakta sejarah.

“Orang-orang Tionghoa memiliki andil besar dalam menginspirasi lahirnya nasionalisme Indonesia,” kata Siauw Tiong Djin seperti dikutip dari wartakota.tribunnews.com.

Sayangnya, lanjut Siauw Tiong Djin, pemerintah kurang atau tidak berupaya memperbaiki bahan-bahan sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah.

Sementara Nur Arif, penasehat Lembaga Seniman Budayawan Muslim Indonesia (Lesbumi) PCNU Depok, pembicara webinar lainnya mengajak memahami sejarah kedatangan kaum Tionghoa ke Indonesia sejak 400 Masehi.Nur Arif menghadirkannya dalam perspektif Islam Nusantara. Nur Arif yang juga doktor ahli biomolekuler di Fakultas Kedokteran UI dan Tohoku University, Jepang, ini mempertanyakan, masih relevankah memandang etnis Tionghoa sebagai sebutan nonpribumi.

Yunarto Wijaya, Direktur Eksekutif Charta Politika pembicara lain, saat momen ini lebih menyoroti nasionalisme dalam konteks Indonesia sebagai konstruksi sosial yang terus mengalami kontestasi. Mulai basis legitimasi berhadapan dengan tekanan globalisasi sampai bangkitnya ‘kesukuan’ yang dikomunikasikan dalam logika identitas primordial.

Ada pula konstruksi sosial dengan banyak yang menjiwai nasionalisme dalam konteks asli versus pendatang, jadi alasan untuk anti-asing.

Menurut Yunarto Wijaya, perlu upaya ‘menulis ulang’ Tionghoa di Indonesia yang tidak berpatokan pada masa lalu dan tidak terpaku pada bidang politik dan ekonomi.

“Secara realistis, cara pandang berbeda terhadap konsep kebangsaan sangat diperlukan apabila stigma tentang Tionghoa ingin diubah,” katanya.

Di webinar yang diikuti 300 orang dari Indonesia maupun luar negeri ini turut memberi pernyataan Christianto Wibisono dan Christian Silman, cicit pemilik gedung Sumpah Pemuda di Kramat Raya, Senen, Jakarta Pusat.

Menurut Andrew Wanandy, ketua panitia webinar, acara ini ditujukan untuk mengulas peran orang-orang keturunan Tionghoa sejak peristiwa pergerakan pemuda, perjuangan kemerdekaan hingga masa pembangunan dan reformasi sekarang ini.

“Webinar ini sekaligus untuk menegaskan hal tersebut dalam semangat nasionalisme dan perayaan Sumpah Pemuda,” ujar Andrew yang juga adalah presiden NKRI OZ Community Inc.[sultantv]

(Visited 6 times, 1 visits today)

Artikel Terkait

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.