Sebagai salah satu founding father bangsa Indonesia, kisah Presiden Soekarno atau Bung Karno selalu menarik dikupas. Salah satunya jejak-jejak Soekarno di tanah Banten. Berdasarkan catatn sejarah, Bung Karno pernah beberapa kali datang ke Banten, diantaranya kunjungan Soekarno ke Bayah, Lebak, tahun 1944 . Kunjungan tersebut dalam rangka pengerahan rhomusa di Banten Selatan.
Pada tahun 1957, Bung Karno berkunjung ke Rangkasbitung. Ia juga meninjau irigasi Pamarayan. Perjalanan ke Rangkasbitung, ibukota Kabupaten Lebak sekarang, dilakukan menggunakan kereta api uap, menempuh jarak 83 kilometer melewati jalur Serpong dan Parungpanjang. Selain Rangkas dan Serang, Bung Karno juga pernah mengunjungi Kabupaten Pandeglang dan melakukan orasi.
Menurut Sejarawan Bonnie Triyana, untuk memahami Soekarno harus tahu latarbelakang Soekarno yang sinkretis, yakni terbiasa dengan budaya yang heterogen. Percampuran budaya yang secara lansung mempengaruhi cara pandangnya. Misalnya saat muda, tahun 1926, Soekarno membuat tulisan tentang nasionalisme, islamisme, dan marxisme.

“Soekarno termasuk orang yang eklektif, yakni memilih semua hal baik dari banyak hal. Sehingga wajar saja saat pidato 1 Juni 1945, dia mengatakan bahwa dirinya lah yang menggali Pancasila, bukan menemu, karena nilainya Pancasila sudah ada. Sebagai seorang tokoh Soekarno sangat moderat dan modern,” ujar Bonnie saat menjadi narasumber dalam Tokoh Bicara yang berlangsung di studio sultantv.co, Jumat (05/06).
Menurut Bonnie, Bung Kanro bukan hanya seorang ideolog, namun juga seorang arsitek, seniman, penulis naskah drama, dan pecinta kuliner. “Bung Karno memiliki banyak dimensi. Kita tidak mau mengkultuskan beliau, namun kita bisa meneladani beliau,” jelasnya.

Sementara itu, Tokoh Banten Embay Mulya Syarif menilai Bung Karno merupakan sosok yang punya pengaruh besar dalam menyulut semangat pemuda Banten dalam merebut kemerdekaan Republik Indonesia. “Beliau punya manuver luar biasa. Secara geografis Banten dekat dengan Jakarta, menuru carita para orang tua, banyak massa dari Banten yang turut mendengar orasi Bung Karno di Lapangan Ikada (sekarang Lapangan Banteng). Bahkan massa paling banyak jsutru dari Banten,” tuturnya.
Pasca merebut kemerdekaan, kata Embay, Soekarno menunjuk Kiyai Haji Tubagus Achmad Chatib menjadi residen Banten. Seperti diketahui, para ulama Banten sangat berperan dalam merebut kemerdekaan RI dari tangan penjajah. Kunjungan Soekarno ke Banten dikatakan Embay juga bagian dari pendekatan kepala negara kepada ulama Banten untuk berkonsiltasi dengan ulama Banten. Apalagi Banten termasuk daerah paling setia kepada republik.
“Pada saat perjanjian renville, wilayah Republik Indonesia kan tinggal 3 yakni Aceh, Yogyakarta, dan Banten. Ini yang menjadi argumentasi kita saat Banten ingin memisahkan diri dari jawa Barat dan membentuk provinsi sendiri,” terang Embay.
Menurut Embay, generasi muda bisa mengambil banyak teladan dari sosok Bung Karno, seperti semangat belajar Bung Karno yang tinggi dan menjaga idealisme. “Kita harus berterima kasih pada Bung Karno, Hatta, dan pejuang kemerdekaan Indonesia lainnya,” pungkas Embay.[]




