Gemulainya Para Penari Gandrung Marsan

Sembilan orang pria memasuki panggung. Satu di antaranya maju ke sudut depan panggung. Duduk bersimpuh, pria ini seperti melakukan permohonan izin untuk mengenakan mahkota yang ada di depannya. Tak lama, setelah permohonan izin dilakukan, mahkota pun dikenakan. Dia lalu membaur bersama delapan orang lainnya. Pertunjukan pun dimulai. Inilah tari gandrung marsan. Tari yang berasal dari Banyuwangi, Jawa Timur. 

Menurut sejarahnya, tari ini berasal dari kesenian yang berkembang pada 1890. Saat itu, ada sebuah kesenian yang dibawakan oleh sekelompok pria berusia 7 sampai 14 tahun. Kesenian ini diiringi alat musik gendang dan rebana. Mereka mengadakan pertunjukan dari satu kampung ke kampung lain. 

Salah seorang penari yang terus melakoni kesenian tersebut hingga usianya mencapai 40 tahun adalah Marsan. Sosok Marsan begitu dikagumi. Sebagai penari, dia dikenal sangat piawai memerankan sebagai perempuan. Tidak hanya itu. Kekaguman masyarakat pada Marsan pun karena pesan moral yang disampaikan dalam setiap tari yang dibawakan. 

Saat itu, sering kali persaingan di antara para penari. Hingga, tidak jarang terjadi perkelahian di dalam pertunjukan. Melalui tari yang dibawakannya, Marsan coba menyampaikan pesan damai kepada masyarakat. 

Sementara, “gandrung” diambil karena kesenian yang dibawakan keliling dari kampung ke kampung ini sangat digandrungi oleh masyarakat. Dalam perkembangannya, kesenian gandrung bukan sekadar sebuah hiburan. Dalam setiap pertunjukannya, diselipkan pesan propaganda untuk melawan penjajah. Hasil yang didapat dari pertunjukan pun digunakan untuk membantu para pejuang. 

Dalam tari gandrung marsan, diangkat kembali sosok Marsan sebagai orang yang memiliki jasa besar dalam perkembangan tari ini. Dan karena Marsan merupakan penari yang piawai memerankan perempuan, gerak dalam tari ini pun terlihat anggun, gemulai, serta centil. Tapi, pada tengah tarian, para penari memasang kumis di wajah mereka. Gerak yang dibawakan pun berubah, menjadi lebih tegas dan gagah. []

(Visited 2 times, 1 visits today)

About The Author

Baca Juga

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.