SERANG – Indonesia dihebohkan dengan munculnya banyak Crazy Rich sebagai representasi idola para generasi muda yang belakangan kemudian tersandung kasus hukum karena melakukan penipuan.
Pengamat sosial dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Sopril Amir mengatakan, maraknya fenomena crazy rich yang muncul di media sosial merupakan informasi yang terpotong dari kisah sukses sebelum pada titik pencapaian yang diekpsose hari ini.
“Netizen dan generasi muda menerima informasi di ujungnya. Tanpa tahu bagaimana meraih kekayaan tersebut apakah betul dengan cara yang benar apakah dengan tindak kriminal.” Jelas Sopril dalam program Bincang Hari Ini Sultan TV, Jumat (18/3/2022).
Dari derasnya informasi dan algortima media sosial, figur-figur muda crazy rich bohongan kemudian menjadi idola dan seolah menjadi harapan bagi para generasi muda.
“Terlebih saat Pandemi Covid-19 seperti saat ini. Melihat sosok crazy rich yang membohongi generasi muda, akan menimbulkan anggapan bahwa menjadi kaya sangat mudah dengan cara ‘kerja cerdas’.” ucap Sopril yang juga sebagai Koordinator Program di Tempo Institute.
Lebih lanjut Sopril menjelaskan, dampaknya generasi muda kita menjadi generasi yang mudah marah, mudah mengidolakan, mudah kecewa, dan tidak sabaran. Namun Sopril mengatakan, dari fenonema yang ada kita semua dapat mengambil hikmah dengan lebih belajar mengendalikan diri saat bermedia sosial dan memilah kembali informasi yang disuguhkan melalui media sosial.
Ditanya soal bagaimana cara kaya dengan instan dan apakah betul ada cara menjadi kaya instan? Sambil berkelakar Sopril menjawab “Hanya ada tiga cara. Menjadi anak orang kaya, menjadi menantu orang kaya, dan ketiga adalah melakukan penipuan atau tindak kriminal. Dan yang ketiga saya sangat tidak menyarankan,” tutup Sopril. []





