BerandaBERITADambus, Gitar dengan Unsur Klenik Khas Bangka Belitung

Dambus, Gitar dengan Unsur Klenik Khas Bangka Belitung

Keragaman suku menjadikan Indonesia kaya akan tradisi dan hasil budaya masyarakat, salah satunya alat musik petik tradisional.

Indonesia tidak hanya memiliki Sasando, Kecapi, ataupun Siter sebagai alat musik petik tradisional yang masih mudah untuk dijumpai atau lestari. Bangka Belitung pun memiliki Dambus untuk mengiringi tarian atau nyanyian masyarakat.

Dambus merupakan alat musik petik khas Bangka, provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Sejumlah sumber menyebut, dambus lahir karena pengaruh dari alat musik yang berasal dari Timur Tengah, yaitu oud, dengan musik gambus-nya.

Meski begitu, ada pula yang menyebut bahwa dambus sesungguhnya merupakan alat musik asli Bangka, produk budaya masyarakat Bangka.

Penelitian asal Jerman, Franz Epp, menulis dalam bukunya yang terbit tahun 1852 berjudul ‘Schilderungen aus Hollandisch-Ostinden’, deskripsi Dambus sebagai alat musik yang terbuat dari kayu keras yang ringan, yang kemudian dilubangi dan ditutup kulit monyet

Walaupun mirip dengan nama gambus, bentuk fisik dan cara memainkan dambus tidak menyerap unsur-unsur gambus. Dahulu, namanya alat musik petik senar, namun masuknya Islam ke Bangka Belitung membuat namanya mengalami penyerapan, gambus menjadi dambus.

Bentuk Dambus yang merepresentasikan bentuk rusa atau kijang menjadikannya sangat khas Bangka. Pasalnya, rusa atau kijang merupakan hewan penting dalam kehidupan masyarakat Bangka.

Untuk membuat Dambus, masyarakat terdahulu menggunakan enam jenis kayu berbeda dari enam hutan yang berbeda. Sementara, hutan-hutan tersebut masing-masing dipisahkan oleh sungai kecil. Sedangkan untuk pemetiknya, masyarakat menggunakan gigi harimau.

Terdapat sebuah ritual agar suara Dambus bisa membuat pendengarnya rindu atau menjerat hatinya. Biasanya, Dambus diberi kemat (jimat) dengan cara diasapi menggunakan kemenyan, lalu diberi mantra. Hal tersebut menjadikan Dambus sebagai alat musik dengan unsur klenik yang cukup kental.

Begitu juga dengan para pemain Dambus. Ada sejumlah ritual biasa dilakukan agar penonton atau pendengar terpikat alunan Dambus yang mereka mainkan.

Kini, kemat dan ritual-ritual semacam itu sudah banyak ditinggalkan. Begitu pun dengan material pembuatannya Sekarang, Dambus banyak dibuat dari kayu nangka, kayu ludai, kayu pulai, dan lain sebagainya.

Di Belitung, Dambus yang disebut juga dengan nama gambus, sebagian bahkan terbuat dari kayu-kayu limbah atau kayu-kayu sisa.

Dambus umumnya dimainkan pada upacara ngembaruk atau panen padi pertama saat bulan purnama sebagai hiburan. Dambus tidak hanya ditampilkan secara tunggal, namun juga ditampilkan bersama alat musik lain seperti gendang induk, gendang anak, tawak-tawak, dan gong, juga bersama tarian yang disebut dincak dambus.

Nasib kesenian tradisional ini sama seperti kesenian tradisional lainnya, tak banyak lagi yang tertarik menekuni Dambus. Penekun kesenian Dambus, saat ini usianya sudah di atas 50-an tahun.

Upaya pewarisan Dambus kepada generasi muda menghadapi tantangan besar. Padahal, sejak tahun 2003, Dambus telah tercatat sebagai warisan budaya tak benda Indonesia di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Most Popular