Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan kuliner khasnya. Namun, tidak dipungkiri, beberapa kuliner khas Indonesia merupakan hasil akulturasi dari budaya lain atau terpengaruh dari negara lain.
Salah satu negara yang banyak mempengaruhi kuliner Indonesia adalah Tiongkok. Berikut 5 kuliner khas Indonesia yang terpengaruh Tiongkok:
1.Bakso
Bakso merupakan makanan khas Tionghoa, yang diciptakan oleh Meng Bo. Bakso berasal dari kata ‘bak’ yang berarti babi dan ‘so’ yang berarti makanan. Dalam Bahasa Hokkien yang secara harfiah berarti ‘daging giling’.
Karena mayoritas penduduk Indonesia merupakan Muslim, maka bakso lebih umum terbuat dari daging halal, seperti daging sapi, ikan, atau ayam.
2.Mie Ayam
Mi Ayam merupakan kuliner akulturasi budaya Tionghoa dan Indonesia. Pada tahun 1870, banyak orang Tionghoa yang singgah dan akhirnya menetap di Jawa.
Mie Ayam dikenal juga dengan nama bakmi. Sama-sama berbahan dasar tepung terigu, namun pada saat penyajian memiliki perbedaan.
Masyarakat Tiongkok melengkapi mie yang disajikan dengan potongan daging babi. Sedangkan masyarakat Indonesia menggunakan potongan ayam yang disemur dengan kecap.
3.Kecap Manis
Kecap manis di Indonesia ternyata dibawa oleh pedagang asal China, yang awalnya memperkenalkan kecap asin (soy sauce) atau ke’tsiap.
Namun kultur budaya masyarakat Jawa tidak terlalu menyukai kecap asin. Dari situlah, orang-orang Tiongkok itu menambahkan gula kelapa ke dalam kecap asin sehingga berubah menjadi kecap manis. Dari sinilah lahir kecap manis yang disesuaikan dengan lidah masyarakat Jawa yang doyan cita rasa manis.
Penyebutan ‘ke’tsiap’ pun diubah menjadi ‘kecap’ lantaran pengucapannya yang sulit.
4.Soto
Kuliner soto merujuk dari salah satu jenis makanan Cina yang dalam dialek Hokkian disebut cau do, jao to, atau chau tu, yang artinya jeroan dengan rempah-rempah.
Di Indonesia, soto pertama kali dikenal di pesisir pantai utara Jawa pada abad ke-19 Masehi, yakni masakan berkuah dengan potongan daging ataupun jeroan.
Awalnya, sesuai dengan aslinya, soto memakai daging babi. Namun, karena di Indonesia banyak yang memeluk agama Islam, maka orang-orang Tionghoa menggantinya dengan daging ayam, sapi, bebek, atau kerbau, hingga jeroannya.
5.Onde-Onde
Onde-Onde pertama kali dibawa oleh pedagang Tiongkok ke Nusantara pada tahun 1300—1500 M. Dibawa oleh Laksamana Cheng Ho dari Dinasti Ming.
Awalnya Onde-Onde hanya berisi pasta gula merah saja dan rasanya manis. Namun, di Indonesia Onde-onde kemudian dimodifikasi dengan penambahan kacang hijau. Cita rasa yang sedikit gurih inilah sangat cocok dengan lidah kebanyakan orang Indonesia.



