BerandaBERITABerpeluang Besar, Kemungkinan Yudo Margono Dipilih Presiden Jadi Panglima TNI

Berpeluang Besar, Kemungkinan Yudo Margono Dipilih Presiden Jadi Panglima TNI

Guru Besar Ilmu Politik dan Keamanan Universitas Padjajaran, Prof Muradi, mengungkapkan sosok kandidat Panglima TNI yang dianggap memiliki peluang besar untuk menjadi pucuk pimpinan TNI.

Dikatakannya, Kepala Staf Angkatan Laut (KASAL) Laksamana TNI Yudo Margono memiliki kemungkinan besar dipilih Presiden Jowo Widodo untuk menggantikan Marsekal TNI Hadi Tjahjanto.

Salah satu alasannya adalah kondisi Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) Jenderal TNI Andika Perkasa. Andika memiliki batas masa pensiun yang singkat, yang akan sangat mengkhawatirkan ketika harus memimpin TNI kurang dari 1 tahun saja.

“Pak Andika Perkasa di media memang yang paling kuat. Tapi Panglima itu (batas usianya) 58 tahun,” tutur Prof Muradi, saat mengisi program BoengKar Insight SultanTV yang dipandu pengamat politik Karyono Wibowo, pada Senin (20/9).

Selain itu, situasi nasional di tahun 2022 dan 2023 yang dikatakan cenderung landai, menjadikan kans TNI AD dianggap belum diperlukan untuk menghadapi situasi itu. Sehingga, Presiden dapat memilih Panglima TNI dari matra lain.

“Sampai 2023 tidak ada agenda politik serius atau strategis yang memungkinkan panglima mengkonsolidasikan terlalu dalam di internal TNI,” paparnya.

Di sisi lain, menurut Prof Muradi, ada tiga alasan mengapa Presiden sebaiknya memilih Panglima TNI dari TNI AL, salah satunya adalah asas keadilan.

Diketahui, sebelum Marsekal Hadi dari matra TNI AU, ada dua jenderal TNI AD yang sudah memimpin secara berturut-turut, yakni Jenderal TNI (purn) Moeldoko, kemudian disambung oleh Jenderal TNI (purn) Gatot Nurmantyo.

“Bicara keadilan, semua angkatan di kepemimpinan presiden dapatkan haknya. Jaman Pak Jokowi karena kondisi tidak terlalu riskan, waktunya sekarang bisa dilakukan,” tuturnya.

Alasan kedua adalah terkait membangun konsolidasi di internal TNI. Situasi kondusif ini bisa dimanfaatkan pemerintah untuk meredam gejolak sentimen negatif di internal militernya.

“Konsolidasi internal, ini waktu ketika tentara menjalankan koordinasi internal di masa damai. Masa damai itu maksudnya sesuatu yang tidak ada gejolak politik maupun keamanan secara khusus,” tambahnya.

Terakhir adalah terkait regenerasi. Setiap perwira tinggi pasti mendambakan bisa memegang tongkat komando Panglima TNI sebagai jabatan tertinggi di organisasinya.

Akan ada kebanggaan tersendiri bagi Kepala Staf Angkatan untuk menduduki jabatan tersebut di dalam biografi pengalaman karir militernya.

“Regenerasi, saya kira posisi angkatan di luar AD atau AU punya hak untuk mencapai titik tertinggi dalam jabatan di internal TNI,” pungkasnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Most Popular