Benarkah ‘Herd Immunity’ Ampuh Atasi Pandemi Corona?

Isu ‘Herd Immunity’ atau kekebalan kelompok bergaung kencang belakangan ini. Konsep tersebut dipercaya bisa mengentaskan pandemi COVID-19 yang masih menghantui dunia hingga saat ini. Namun, anggapan itu langsung dikecam oleh WHO dalam konferensi pers di Jenewa pada Rabu (13/5).

Herd Immunity adalah suatu keadaan di mana sebagian besar orang dalam sebuah kelompok atau komunitas menjadi kebal pada suatu penyakit menular. Kebanyakan orang yang sudah kebal itu pun jadi tak tertular maupun menularkan ke orang lain. Akibatnya, rantai penularan penyakit bisa terputus.

Lantas, bagaimana cara membentuk Herd Immunity? Ampuhkah digunakan untuk melawan COVID19?

Dilansir dari Healthline, ini 4 fakta penting Herd Immunity dan kaitannya dengan COVID-19.

1. Cara mencapai Herd Immunity

BBC

Herd Immunity terjadi saat sebagian besar orang dalam sebuah komunitas menjadi kebal terhadap penyakit menular, sehingga penyakit itu berhenti menyebar. Ada 2 cara untuk mencapainya, yaitu melalui kekebalan alami dan vaksin.

Pada cara yang pertama, sebagian besar orang terjangkit penyakit dan pada saat itu juga terbentuk kekebalan sebagai respons alami tubuh untuk melawan penyakit. Karena sebagian besar penduduk sudah kebal, penyebaran penyakit pun melambat atau bahkan berhenti.

Serupa dengan yang pertama, dalam cara yang kedua, kekebalan itu dibentuk melalui vaksin. Akibatnya, rantai penyebaran terputus karena sebagian besar penduduk yang telah divaksin menjadi tak terjangkit sekaligus tak menularkan virus itu.

2. Ambang batas Herd Immunity

New York Times

Terdapat ambang batas atau persentase minimal yang harus dipenuhi agar terbentuk Herd Immunity. Untuk beberapa penyakit, Herd Immunity bisa efektif jika 40 persen orang dalam kelompok itu kebal penyakit, misalnya lewat vaksin. Namun, pada sebagian besar kasus, penyebaran penyakit baru bisa dihentikan jika tingkat kekebalan kelompoknya mencapai 80-95 persen.

Misalnya, 19 dari 20 orang harus mendapat vaksin campak agar terbentuk Herd Immunity dan rantai penyebarannya terputus. Artinya, jika ada satu anak terkena campak, setiap orang di sekitarnya harus divaksin agar terbentuk antibodi dan kebal, sehingga penyakit itu tak makin menyebar luas. Namun, jika lebih banyak yang tidak divaksin, penyakit akan mudah menyebar luas lantaran tak ada kekebalan kelompok.

3. Keampuhan Herd Immunity

South China Morning Post

Herd Immunity ampuh mengatasi beberapa penyakit. Misalnya, penduduk di Norwegia berhasil membentuk Herd Immunity terhadap virus H1N1 (flu babi), baik melalui vaksinasi maupun kekebalan alami.

Herd Immunity memang bisa membantu menghentikan penyebaran penyakit, seperti flu babi dan pandemi lainnya. Namun, kondisi tersebut bisa tiba-tiba berubah tanpa ada yang tahu. Selain itu, tak ada jaminan Herd Immunity bisa selalu melindungi dari penyakit apapun.

Tak semua penyakit bisa dihentikan Herd Immunity meski ada vaksinnya. Misalnya, Anda bisa terkontaminasi tetanus dari bakteri di lingkungan Anda. Karena terjangkitnya bukan karena tertular dari orang lain, kekebalan tubuh pun tak bekerja untuk infeksi ini. Meski begitu, vaksin tetaplah penting. Herd Immunity memang tak selalu melindungi setiap individu dalam kelompok, tetapi bisa membantu mencegah penyebarannya makin meluas.

4. Herd Immunity untuk mengatasi COVID-19

Vox

Dalam konferensi pers di Jenewa pada Rabu (13/5), WHO mengecam penerapan konsep Herd Immunity untuk mengatasi pandemi corona. Pasalnya, konsep ini akan mengorbankan banyak nyawa manusia.

Ada beberapa alasan mengapa Herd Immunity bukanlah jalan keluar untuk mengatasi COVID-19. Pertama, belum ada vaksin untuk SARS-CoV-2. Padahal, jalan paling aman untuk membentuk Herd Immunity adalah dengan vaksin. Artinya, membentuk Herd Immunity tanpa vaksin adalah tindakan yang sangat berbahaya.

Kedua, penelitian tentang COVID-19 masih sangat terbatas. Misalnya, ilmuwan belum bisa memastikan apakah seseorang bisa terserang COVID-19 lebih dari sekali. Selain itu, pasien COVID-19 berisiko mengalami efek serius, bahkan meninggal dunia. Hingga saat ini belum diketahui mengapa ada sebagian orang yang hanya sakit ringan, sedangkan sebagian lainnya parah, bahkan meninggal dunia.

Ketiga, golongan masyarakat yang rentan, seperti lansia dan pasien berpenyakit kronis, bisa sakit parah jika tertular virus. Kondisi yang sama juga bisa menimpa orang sehat dan masih muda.

Keempat, rumah sakit dan sistem kesehatan akan kewalahan jika banyak orang terserang COVID-19 bersamaan.

Para ilmuwan saat ini masih bekerja keras mengembangkan vaksin untuk SARS-CoV-2. Jika sudah ada vaksinnya, kita mungkin bisa membentuk Herd Immunity melawan Virus Corona di masa depan. Namun, nyatanya vaksin itu kini masih belum tersedia. Jadi, Herd Immunity bukanlah solusi untuk mengatasi pandemi pada saat ini.

(Visited 7 times, 1 visits today)

Artikel Terkait

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.