BerandaBERITAMerasa Bingung, Pedagang Pasar Induk Jatiuwung Tangerang Adukan Nasib ke DPRD

Merasa Bingung, Pedagang Pasar Induk Jatiuwung Tangerang Adukan Nasib ke DPRD

Pedagang Pasar Induk Jatiuwung, Kota Tangerang adukan nasibnya pada amggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) untuk meminta Pasar Induk Tanah Tinggi ditutup.

Sejumlah pedagang mendatangi kantor DPRD dengan mengenakan kaos hitam berniat menyampaikan aspirasinya kepada para anggota DPRD, pada Kamis (6/1/2022).

Yudi, Perwakilan pedagang Pasar Induk Jatiuwung mengatakan, pihaknya meminta realisasi pernyataan dari Wali Kota Tangerang yang tersiar di media cetak pada Oktober 2018.

Menurut dia, dalam pernyataan tersebut, Wali Kota Tangerang menjelaskan bahwa Pasar Induk Tanah Tinggi itu habis izin operasionalnya pada 2021 dan tidak akan diperpanjang. Namun, sampai saat ini Pasar Induk Tanah Tinggi masih beroperasi.

“Kami memohon kepada Bapak Wali Kota Tangerang untuk bisa segera mengambil sikap dan keputusan atas dasar statement yang telah bapak katakan di surat kabar harian pada 15 Oktober 2018,” ujarnya.

Setelah pedagang Pasar Induk Tanah Tinggi melakukan perpindahan dari Pasar Induk Jatiuwung mengalami kerugian.

“Kurang lebih ini yang dirugikan sama-sama pedagang juga sebenarnya. Dari Tanah Tinggi dirugikan, dari Jatiuwung juga dirugikan. Karena semua omzet pedagang turun gara-gara adanya dua pasar ini,” ucapnya.

Ketua DPRD Kota Tangerang Gatot Wibowo menjelaskan, sudah menyimpan pendapat dan aspirasi para pedagang untuk itu persoalan ini akan ditindaklanjuti.

“Isi aspirasi ada tiga poin yang disampaikan dan ini akan kita tindaklanjuti. Nanti kita akan berkoordinasi dan berkomunikasi. Kita panggil dinas terkait yang berkaitan dengan kondisi pasar Jatiuwung dan Tanah Tinggi,” ujar Gatot.

Lebih lanjut, Gatot akan mengkonfirmasi pada Wali Kota Tangerang, Arief R. Wismansyah atas dugaan yang diberikan pedagang Pasar Induk Jatiuwung.

“Idealnya cuma satu, tidak ada aturan tertulis tapi gini lho, kan melihat kapasitas jumlah penduduk biasa penyebaran. Kalau kita lihat beberapa wilayah, daerah. Kayak Semarang saja belum ada juga pasar induk, ini kan harus ada pendistribusian dari jumlah penduduk, kalau pasar induk itu rata-rata satu kalau saya tahu ya. Termasuk Jakarta cuma Kramat Jati ya,” tutupnya. (RT)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Most Popular