BerandaBERITASutradara Terbaik FFI 2021, Begini Karier Moncer Wregas Bhanuteja

Sutradara Terbaik FFI 2021, Begini Karier Moncer Wregas Bhanuteja

Wregas Bhanuteja berhasil membawa pulang Piala Citra Festival Film Indonesia (FFI) 2021 kategori ‘Sutradara Terbaik’ untuk filmnya Penyalin Cahaya. Penghargaan itu didapatkannya pada Malam Anugerah Piala Citra FFI 2021 yang digelar di Jakarta Convention Center, Jakarta, pada Rabu (10/11/2021) malam.

Selain itu, film Penyalin Cahaya yang digarapnya pun meraih penghargaan tertinggi kategori ‘Film Cerita Panjang Terbaik’. Total, malam itu, Penyalin Cahaya sukses memboyong 12 Piala Citra dari 17 nominasi yang didapatkan dari ajang FFI 2021.

“Saya tidak akan berhasil melewati semua ini tanpa dukungan dari orang-orang yang mempercayai saya begitu dalam, produser, dan para kru yang percaya pada semua konsep, gambaran, visi, dan para pemain yang berproses selama berbulan-bulan,” ungkap Wregas saat menerima Piala Citra.

Film Penyalin Cahaya dengan judul internasional Photocopier menjadi debut Wregas sebagai sutradara film panjang. Sebelumnya, ia dikenal sebagai sineas film pendek yang banyak meraih penghargaan di dalam maupun di luar negeri.

Pria kelahiran Yogyakarta, 20 Oktober 1992, itu belajar membuat film pendek ketika masih berstatus sebagi pelajar di SMA De Britto College Yogyakarta. Pada tahun 2010, ia kuliah di Fakultas Film dan TV, Institut Kesenian Jakarta, jurusan penyutradaraan film.

Selama menempuh pendidikan, beberapa film pendek dihasilkannya. Salah satunya, Senyawa yang menggunakan film seluloid 16 mm, pada 2012. Lalu, sebagai tugas akhirnya, di tahun 2014 ia membuat film pendek berjudul Lemantun.

Lemantun bercerita tentang lemari kayu lawas yang menjadi warisan bagi keluarganya. Ceritanya diangkat dari kisah nyata di keluarga Wregas. Lemantun berhasil meraih penghargaan ‘Film Fiksi Pendek Terbaik’ di ajang Apresiasi Film Indonesia 2015.

Lalu, ia juga meraih ‘Film Pendek Fiksi Terbaik’ pilihan Juri Indonesian Motion Picture Associations (IMPAS) di ajang XXI Short Film Festival 2015. Serta, penghargaan ‘Film Pendek Terpilih’ di ajang Piala Maya 2015.

Pada 2015, film pendek berjudul Lembusura garapannya yang berkisar tentang letusan Gunung Kelud, masuk seleksi di Berlin International Film Festival ke-65 Tahun 2015. Ia bersaing di sesi Berlinale Shorts Competition. Wregas dinobatkan sebagai sutradara termuda di festival, baru berusia 22 tahun saat itu.

Pada tahun 2016, nama Wregas semakin bersinar setelah menulis dan menyutradarai Prenjak, yang berkisah tentang seorang wanita yang menjual korek api di Yogyakarta.

Di ajang internasional Festival Film Cannes 2016 Prenjak terpilih dalam Semaine de la Critique ke-55 dan dianugerahi Leica Cine Discovery Prize untuk film pendek. Menjadikan Wregas sebagai sutradara Indonesia pertama yang menerima penghargaan di Festival Film Cannes.

“Sebuah film dengan kedalaman puitik yang mengejutkan. Prenjak karya Wregas Bhanuteja adalah film yang kelam dan bengal, tentang bagaimana mencari nafkah itu sama harganya dengan sekadar permainan korek api,” puji Direktur Artistik Semaine de la Critique, Charles Tesson, melansir dari bbc.com.

Kemudian, Wregas kembali membuat film pendek berjudul Tak Ada Yang Gila Di Kota Inidengan judul internasional No One Is Crazy In This Town pada tahun 2019. Tak Ada Yang Gila Di Kota Ini merupakan adaptasi dari cerita pendek dengan judul yang sama karya Eka Kurniawan.

Tak Ada Yang Gila Di Kota Ini terpilih untuk mengikuti kompetisi ‘Wide Angle: Asian Short Film Competition’ pada Busan Internasional Film Festival 2019. Selain itu di dalam negeri, film ini berhasil meraih penghargaan Piala Citra ‘Film Pendek Terbaik’ Festival Film Indonesia 2019.

Terbaru, Wregas mengerjakan film panjang pertamanya Penyalin Cahaya yang rencananya akan tayang di Netflix pada 13 Januari 2022. Penyalin Cahaya merupakan film drama kriminal yang mengangkat isu tentang kekerasan seksual.

“Film ini tidak akan hanya berhenti di sini, tapi yang utama adalah statement, argumen, dan message dari film ini untuk kita bersama-sama melawan kekerasan seksual di manapun itu. Di lingkungan terdekat, di tempat kerja, di sekitar kita, dan kita harus selalu berpihak pada penyintas. Kita harus menguatkan. Kita harus percaya kepada mereka,” tegas Wregas.

Sebelumnya, Penyalin Cahaya tayang perdana secara internasional di Busan International Film Festival 2021 pada 8 Oktober 2021.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Most Popular