Yusnia Katagori, M.Psi., psikolog dari Cahaya Psikologi Indonesia mengatakan, dampak terburuk ketika seseorang laki-laki menjadi korban pelecehan seksual adalah adalah menjadi pelaku baru pelecehan seksual.
“Korban akan menjadi pelaku baru ketika dia tidak ditangani dengan baik,” ungkap Yusnia, saat menjadi narasumber program +62 Bicara SultanTV, pada Selasa (29/9/2021).
Dikatakan Yusnia, laki-laki sebagai korban pelecehan seksual sama saja dengan perempuan yang menjadi korban. Begitu pun pelaku pelecehan seksual terhadap laki-laki, tidak hanya dilakukan oleh laki-laki lainnya melainkan juga perempuan.
Yang menjadi masalah, stereotipe di masyarakat Indonesia masih menganggap laki-laki yang menjadi korban pelecehan seksual tidak terlalu penting untuk ditangani.
“Atau malah merasa aneh, ‘Masa iya sih laki-laki yang menjadi korban?’ Karena yang biasanya yang ada itu perempuan yang menjadi korban,” tambahnya.
Selain itu, ketika laki-laki menjadi korban pelecehan seksual, mereka cenderung tidak berani untuk speak-up terhadap apa yang mereka alami dan lebih memilih untuk menarik diri.
Yusnia menyarankan, ketika seorang laki-laki menjadi korban pelecehan seksual, hal pertama yang harus dilakukan adalah memberanikan diri untuk menceritakan apa yang mereka alami, salah satunya dengan keluarga, terlebih orang tua.
“Karena baik-buruknya kita yang akan memperhatikan terlebih dahulu yaitu orang tua,” katanya.
Selanjutnya adalah menceritakan kepada orang-orang yang mereka percaya, seperti teman. Kemudian, baru speak-up kepada psikolog atau psikiater, tergantung mana yang membuat mereka lebih nyaman.
“Kalo memang sudah menjadi gangguan yang menyebabkan dia susah tidur, depresi, dan segala macem, itu lebih baik ke psikiater dulu untuk mendapat penanganannya, baru ke psikolog,” pungkasnya.




