BerandaBERITABanyuresmi Mendapat Penghargaan Pendamping Desa Wisata Terbaik

Banyuresmi Mendapat Penghargaan Pendamping Desa Wisata Terbaik

Desa wisata Banyuresmi, Jiput, Pandeglang mendapat penghargaan sebagai pendamping desa terbaik 2020 Kemenparekraf RI. Dari 109 desa wisata di Indonesia, pendamping desa wisata Banyuresmi yakni Untirta masuk ke dalam 20 besar.

Sejak Januari 2020, Desa Banyuresmi menjadi desa wisata. Namun perencanaan awal sejak 7 Agustus 2018  yakni melalui wadah organisasi kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Surya Mandiri Sejahtera yang di dalamnya tergabung para pemuda, tokoh masyarakat, bahkan ibu-ibu.

Banyuresmi mengandalkan wisata kampung bambu Cisaat, river tubing, sepeda terbang, flyng fox, mountain bike,  serta potensi seni budaya seperti dodot  dan debus. Rebung awi, emping, dan kulit tangkil  juga kuliner unggulan. Ngalepet dan bancakan adalah kearifan lokal yang menjadi daya tarik.

“Dalam hal ini sarana dan prasarana desa dibantu dan diberikan oleh Bumdes Mina Agrowisata, untuk pengelolaannya dilakukan Pokdarwis,” jelas Ahmad Suryadi, Ketua Desa Wisata Banyuresmi seusai menjadi narasumber di program Bincang Hari Ini Sultan TV, Senin (23/11/2020).

Setelah menjadi desa wisata, Ahmad mengaku, banyak manfaat yang dirasakan masyarakat.

“Kalau sebelumnya bambu dijual dalam bentuk glondongan, saat ini masyarakat berbondong-bondong membuat kerajinan dari bambu, misal kipas dari bambu, bubu, krei, dan kentongan,” tutur lelaki yang juga penyuluh pertanian di Kabupaten Pandeglang ini.

Mira Maulani Utami, Ketua Tim Pendamping Desa Wisata Banyuresmi menjelaskan, berbagai kearifan lokal yang ditonjolkan pada desa wisata Banyuresmi, selain menjadi daya tarik dan ciri khas juga mendatangkan keuntungan secara finansial. Banyak manfaat yang dirasakan masyarakat antara lain dalam memanfaatkan bambu  menjadi produk kreatif yang bernilai jual.

“Untuk menjadikan desa menjadi desa wisata seperti Banyuresmi ini siapapun bisa. Namun harus memperhatikan lima elemen pembangun pariwisata. Yakni akademisi, peran dari universitas atau sekolah tinggi pariwisata. Pelaku pariwisata, baik PHRI, Asita, UKM, atau pihak penerbangan. Peran komunitas seperti Genpi, fotografi, dan pesepeda. Peran pemerintah seperti Dinas  PUPR, dan peran media dalam membantu mempromosikan wisata,” tutur Dosen Untirta yang juga menjadi narasumber Bincang Hari Ini, Senin (23/11/2020) ini.

Namun, kata Mira, ada 3A yang kemudian menjadi 5A yang harus diperhatikan. Yakni atraksi, aksesibilitas (mudah dicapai), dan amenitas (fasilitas). Desa wisata harus memiliki homestay yang berbeda dengan guest house, minimal 1 kamar dan maksimal 3 kamar dalam satu rumah. “Harus ada interaksi penghuni dengan pengunjung,” imbuh Mira.

Untuk attraction dan activities, meliputi sesuatu yang dilihat seperti gunung atau sungai. Activities juga mencakup pengunjung berinteraksi dengan membajak sawah, mengambil tangkil atau membuat emping.

Sementara accesiblities adalah akses tranportasi untuk menjangkau desa wisata. Dan amenitas mencakup ketersediaan kafe, warung, atau toko suvenir.

Mengenai anugerah pendamping desa terbaik ini, tutur Mira, akan diberikan pada 17 Desember 2020 nanti pada malam penganugerahan. “Tahun ini adalah tahun kedua kerjasama Kemenparekraf RI. Dan tahun ini dari 109 perguruan tinggi pendamping desa wisata. Dan kami mendapat predikat 20 terbaik. Selain Banyuresmi, di Banten ini ada desa wisata lain yakni Kranggan Setu di Tangerang dan Cikolelet di Kabupaten Serang,” tukas Mira.

Beberapa waktu lalu, dalam rangka  pemilihan 6 besar terbaik pendamping desa wisata terbaik di seluruh Indonesia, Kemenparekraf RI melakukan  visitasi ke 20 desa wisata terpilih untuk melakukan penilaian progress pendampingan dari masing-masing perguruan tinggi, di antaranya yaitu Desa Wisata Banyuresmi di Kecamatan Jiput Pandeglang, Provinsi Banten. (sultantv-01)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Most Popular