Virginia Hall, Mata-mata Perempuan Paling Berbahaya di Perang Dunia II

Selama Peran Dunia II, pemerintah Nazi terus memburu para pemberontak dan mata-mata sekutu. Selain itu, ada satu operasi khusus yang dilakukan Reich Ketiga untuk menangkap mata-mata yang membocorkan misi Nazi. Nama mata-mata tersebut adalah Virginia Hall, tapi Nazi lebih sering menyebutnya dengan “wanita pincang”.

“Saya akan memberikan apa pun asal bisa menangkap wanita Kanada pincang itu,” ucap Klaus Barbie, kepala Geheime Staatspolizei (Gestapo – polisi rahasia Nazi) yang terkenal, saat menggerutu kepada anak buahnya. Namun, meskipun sudah merencanakan beberapa usaha kejam, Barbie tidak pernah bisa menangkap Hall.

Virginia Hall bukanlah orang Kanada, tapi fakta bahwa dia memiliki kaki pincang benar adanya. Ia pernah mengalami kecelakaan saat berburu sehingga kaki kiri di bawah lututnya harus diamputasi. Sebagai ganti kakinya, Hall memakai alat protestik dari kayu seberat tujuh pon yang ia beri nama Cuthbert.

Kisah hidup Virginia Hall

Hall dibesarkan di Baltimore, Maryland, oleh keluarga kaya dan bijaksana yang tidak pernah membatasi potensi putri mereka. Dikenal atletis, lucu, dan kritis, Hall dipilih sebagai “murid paling orisinal di kelas”nya.

Ia kemudian memulai kuliah di Barnard dan Radcliffe, namun akhirnya menyelesaikan studi di Paris dan Wina. Karena hal itu, dia jadi fasih berbahasa Prancis, Jerman, Italia, dan sedikit Rusia.

Setelah lulus kuliah, Hall melamar kerja di Dinas Luar Negeri AS, karena ingin melihat dunia dan melayani negaranya. Ia pun terkejut saat menerina surat penolakan dengan alasan: “Tidak ada wanita di sini. Itu tidak akan terjadi”.

Tidak menyerah, menurut Judith Pearson, pengarang buku The Wolves at the Door: The True Story of America’s Greatest Female Spy, Hall memutuskan masuk ke Kementerian Luar Negeri melalui ‘jalur belakang’. Awalnya, ia bekerja sebagai juru ketik di Kedutaan Besar AS di Warsaw, kemudian di Konsulat AS di Turki.

Saat berburu dengan teman-temannya di Turki pada 1933 itu lah, Hall terhuyung ketika memanjat pagar kawat dan tanpa sengaja menembakkan senapan ke arah kaki kirinya.

Kembali ke rumahnya di Maryland, Hall mencoba melamar kembali ke Dinas Luar Negeri. Ia kembali ditolak, bukan karena ia adalah wanita, tapi karena kaki Hall telah diamputasi.

Ia pun menyerah dan kembali ke Paris sebagai warga sipil pada 1940 – tepatnya pada malam invasi Jerman. Hall kemudian menjadi pengemudi ambulans untuk tentara Prancis  selama beberapa waktu. Ketika Prancis menyerah pada Nazi, ia melarikan diri ke Inggris.

Saat menghadiri pesta koktail di London, Hall menggebu-gebu menyatakan kebenciannya pada Nazi. Tak lama kemudian, ada orang asing yang tiba-tiba memberikannya kartu nama sambil berkata: “Jika Anda benar-benar tertarik menghentikan Hitler, datang dan temui saya.”

Seseorang yang memberikan kartu nama itu ternyata adalah Vera Atkins, pelatih mata-mata Special Operations Executive (SOE) Inggris. Atkins terkesan dengan pengetahuan Hall tentang wilayah pedesaan Prancis, kemampuan berbahasa asingnya dan keberaniannya yang tidak terlupakan.

Pada 1944, beberapa bulan sebelum invasi D-Day di Normandy, Hall mmengendarai kapal torpedo Inggris ke Prancis, dan menyamar sebagai seorang wanita petani berusia 60 tahun. Dalam salah satu laporan OSS, dikatakan bahwa tim Hall berhasil meledakkan empat jembatan yang menewaskan 150 anggota pasukan Nazidan berhasil menangkap 500 lainnya.

Setelah perang, Hall dianugerahi Distinguished Service Cross, salah satu penghargaan militer tertinggi AS atas keberaniannya dalam pertempuran. Hall menjadi satu-satunya perempuan yang menerima penghargaan tersebut selama Perang Dunia II. Kembali ke tanah airnya, ia kemudian lanjut bekerja bersama CIA hingga pensiun di usia 60. Hall meninggal pada 1982.[]

(Visited 14 times, 1 visits today)

About The Author

Baca Juga

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.