Tradisi dan Kepatutan

Di setiap daerah memiliki kearifan lokal tersendiri. Mulai dari pakaian khas maupun adat budaya keagamaan. Dalam upacara adat masing-masing daerah memiliki do’a-do’a tertentu yang dijadikan sesuatu hal yang sakral. Misalnya dalam acara pernikahan, khitanan, bahkan kematian tidak lepas dari ritual doa-doa, terutama di kalangan umat Islam. Bisa berupa tahlilan, khataman Al-Qur’an, ataupun sholawatan.

Kegiatan adat seperti itu sudah lumrah dilakukan secara turun temurun oleh warga desa maupun perkotaan. Namun yang masih kental dengan balutan adat gotong royong sering kali terlihat di pedesaan saat salah satu warganya mengadakan suatu acara.

Dalam upacara kematian misalnya, di kalangan muslim, biasanya ada anjuran untuk berta’ziah atau mengunjungi rumah duka untuk sekedar menghibur atau meringankan beban dengan menyumbangkan tenaga, pikiran maupun materi. Namun, di pedesaan biasanya warga yang datang berta’ziah membawa buah tangan berupa beras, uang atau sembako lain. Kemudian bagi shohibul musibah mengadakan acara tahlilan atau semacam do’a setelah prosesi penguburan jenazah. Tahlilan tersebut yang menjadi adat kebiasaan para warga muslim dengan mengumpulkan warganya setiap malam selama tujuh hari.

Warga khususnya kaum laki-laki yang datang dan ikut tahlilan, biasanya diberikan tanda terima kasih sebatas kemampuan keluarga yang meminta tolong, tanpa ada patokan jumlah yang harus diberikan. Tanda terima kasih tersebut bisa berupa uang, atau makan berat. Tidak ada keberatan atau penolakan dari orang-orang tersebut karena bagi mereka yang utama adalah membantu keluarga bersangkutan dan tidak ada paksaan. 

Namun, semakin berkembangnya zaman, kearifan local dan tradisi gotong royong itupun sedikit demi sedikit terkikis dan terwarnai dengan niat egosentris. Saat ini, bahkan beberapa orang sudah berani memasang tarif untuk “pelayanan” terhadap acara-acara selamatan ataupun aktivitas sejenis. Ada penawaran semacam borongan layaknya transaksi bisnis. Untuk mengaji selama satu hari harus dibayar berapa. Terkadang tarif yang diberlakukan oleh beberapa kelompok tertentu berbeda dengan yang lain.

Shohibul musibah pun pada akhirnya harus merogoh kocek dalam-dalam untuk mempersiapkan prosesi kematian anggota keluarganya. Dan yang banyak menguras dompet adalah ketika acara selamatan atau yang biasa disebut tahlilan. Entah berawal dari siapa tarif membaca do’a itu berlaku, namun kebiasaan itupun kini beredar dan diterima oleh beberap orang.  Asas mencari ridho Sang Khaliqpun bergeser menjadi asas ekonomi dimana semuanya didasarkan pada prinsip mencari keuntungan ekonomi.

Sudah sebegitu materialistiskah kita sekarang sehingga hal-hal yang sensitif perihal ritual keagamaan sekalipun telah menjadi komoditas ekonomi. Mungkin untuk kegiatan-kegiatan yang “berbau” euforia atau suka cita cukup etis tatkala para pengisi kegiatan keagamaan mendapatkan “amplop” ucapan terima kasih.

Namun untuk acara yang didalamnya mengandung unsur duka cita sungguh hal itu sangat memprihatinkan. Pasalnya, terlebih dapat meringankan beban shohibul musibah, justru menambah beban keluarga tersebut. Dalam jangka panjang, jika hal itu terus berlangsung selain dapat mengikis tradisi gotong-royong dikhawatirkan juga dimasukan unsur politik dengan niat mendapat keuntungan. Dan sayangnya, hal semacam itu justru penulis temukan di desa-desa bukan di perkotaan. Karena mungkin bagi warga kota tidak butuh upah yang jumlahnya bisa mereka dapat dengan mudah.

Yang menjadi pertanyaan, layakkah do’a dilabeli tarif seperti itu? Dikutip dari laman kompasiana yang memuat artikel serupa, pada prinsipnya, mengambil upah ruqiyah, baca do’a, atau sejenisnya para ulama sepakat menghalalkannya. Artinya boleh diambil. Namun, jika memasang tarif, kebanyakan para ulama tidak membenarkan, terlebih pada shohibul musibah yang terkesan menyulitkan. Benar tidaknya hal ini dilakukan barangkali masih akan menjadi pro kontra di masyarakat. Tinggal bagaimana kita menilai sendiri apakah hal semacam ini layak dilestarikan?

Ditulis oleh Juju (Mahasiswa UIN SMH Banten)

(Visited 1 times, 1 visits today)

About The Author

Baca Juga

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.