Mural bertuliskan ‘Wabah Yang Sebenarnya adalah Kelaparan’ di Jl. R. E. Martadinata, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan dihapus Petugas Satpol PP.
Hal tersebut dibenarkan Kepala Satpol PP dan Damkar Kota Banjarmasin, Ahmad Muzaiyin, yang mengatakan bahwa penghapusan mural dilakukan agar tidak menimbulkan penafsiran yang beragam di masyarakat.
“Semata-mata untuk mencegah kesalahan persepsi dan menimbulkan multitafsir,” kata Muzaiyin, dikutip Detikcom, Jumat (20/8).
Muzaiyin mengatakan, mural yang berlokasi tidak jauh dari Balai Kota Banjarmasin itu dihapus lantaran untuk membersihkan ruang publik dari coret-coretan yang dinilai merusak keindahan tata kota.

Selain di Banjarmasin, mural serupa juga muncul di Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo, Ciledug, Kota Tangerang.
Mural yang juga bertuliskan ‘Wabah Yang Sebenarnya adalah Kelaparan’ itu pun sudah dihapus, pada Selasa (17/8).
Camat Ciledug Syariffudin mengatakan mural itu dihapus karena tidak memiliki izin dan dinilai melanggar etika.
“(Mural berada di) lahan orang, pintu masuk gerbang orang. Ya kita boleh berinovasi, berkreasi tapi kan harus tempatnya yang benar. Jangan di lahan orang di pintu masuk orang,” ujar Syarifuddin.
Sebelumnya, beberapa kejadian penghapusan mural oleh aparat menjadi sorotan masyarakat. Salah satunya, mural ‘Tuhan, Aku Lapar!!’ di Tigaraksa, Kabupaten Tangerang yang dihapus pihak kepolisisan, pada Jumat (27/7).
Lalu, mural ‘Jokowi 404: Not Found’ di Batuceper, Kota Tangerang yang dihapus, pada Jumat (13/8), lantaran dinilai menghina lambang negara, menurut pihak kepolisian. Pembuat mural pun diburu.
Terakhir, mural ‘Dipaksa Sehat di Negara yang Sakit’ di Bangil, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, yang dihapus pihak Kecamatan Bangil berdasarkan perintah Satpol PP Kabupaten Pasuruan. Alasannya, mural tersebut dianggap memiliki muatan tulisan yang tak pantas jika dibaca masyarakat.



