Suku Chambri dan Tradisi Melukai Kulit Agar Menyerupai Buaya

Penduduk suku Chambri di provinsi Sepik Timur, Papua Nugini masih mempraktikan skarifikasi buaya, inisiasi bagi anak laki-laki yang telah memasuki fase dewasa.

Penduduk Papua Nugini sangat memuja hewan reptil ini. Mereka menganggap buaya sebagai hewan spiritual dan simbolis. Menurut kepercayaan suku Chambri, buaya merupakan pemangsa yang kuat. Kepercayaan ini diambil dari sebuah mitos kuno yang menceritakan kisah seekor buaya yang berimigrasi dari Sungai Sepik ke darat untuk menjadi manusia.

Bagi anak laki-laki berusia 11 tahun, mereka akan mempertaruhkan hidup untuk mengambil bagian dalam ritual lama yang sudah menjadi tradisi turun temurun, sebagai penghormatan kepada buaya.

Dalam proses ini, kulit mereka akan dipotong dan dilukai sehingga membentuk sisik seperti kulit buaya. Pada masa lalu, pemotongan ini menggunakan bambu yang diasah, tetapi saat ini para ketua adat menggunakan pisau silet.

Anak laki-laki akan dibawa ke “rumah roh” oleh paman mereka dan tinggal di sana selama enam minggu sebelum proses inisiasi dilakukan. Proses skarifikasi ini sendiri berlangsung selama dua jam.

Kulit mereka akan disayat sepanjang 2 cm, dilakukan berulang hingga membentuk pola mengalir di punggung, lengan, dada, dan bokong mereka untuk menampilkan imitasi tubuh buaya.

Proses pemotongan dan penyembuhan akan dilakukan berkali-kali agar menghasilkan tanda yang permanen.  Meski menyakitkan, tetapi anak laki-laki tidak boleh menunjukan rasa sakit selama prosesi ini. Tujuannya adalah agar menggambarkan karakter disiplin, fokus, dan dedikasi.

Untuk menghilangkan rasa sakit, mereka hanya mengunyah daun tanaman obat. Seorang anak laki-laki harus menunjukan kekuatan yang cukup untuk membuktikan bahwa ia adalah seorang laki-laki.

Penduduk suku Chambri percaya bahwa dengan menahan rasa sakit yang luar biasa di usia muda, mereka akan lebih siap untuk menahan rasa sakit di kemudian hari.

Setelah kulit disayat, mereka akan berbaring di dekat api sehingga asap tertiup ke dalam luka. Kemudian, luka tersebut akan diolesi dengen tanah liat dan minyak pohon untuk mencegah infeksi dan memastikan mereka tetap terjaga bahkan setelah mereka sembuh.

Proses upacara tersebut akan selesai ketika anak laki-laki tersebut memakai hiasan kepala dan perhiasan. Mereka secara resmi telah menjadi laki-laki. Mereka juga dapat mengambil bagian dalam upacara suku besar.

Kulit dilukai agar berbekas seperti kulit buaya.
Tubuh dengan pola seperti buaya.
Ilustrasi buaya siam.
(Visited 81 times, 1 visits today)

About The Author

Baca Juga

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.