Studi: Tenaga Kesehatan yang Menangani COVID-19 Terancam Risiko Burnout

Sebuah studi baru menemukan bahwa dokter yang menangani pasien Covid-19, baik dokter umum maupun spesialis, berisiko dua kali lebih besar mengalami keletihan emosi dan kehilangan empati dibandingkan mereka yang tidak menangani pasien COVID-19.

Hasil ini ditemukan setelah Program Studi Magister Kedokteran Kerja – Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia melakukan studi potong lintang mengenai keletihan mental pada tenaga medis.

Caranya dengan menyebarkan survei online kepada para tenaga kesehatanuntuk diisi secara sukarela. Tim peneliti lantas mengamati data-data populasi atau sampel yang telah dikumpulkan.

Waktu penelitian dimulai dari bulan Februari hingga Agustus 2020, berdasarkan data yang dikumpulkan pada bulan Juni hingga Agustus 2020 dengan total responden 1.461 responden dari seluruh propinsi di Indonesia. 

Tim peneliti menemukan bahwa burnout atau keletihan mental dalam berbagai tingkat, yakni rendah, sedang dan berat, sedang terjadi di kalangan tenaga kesehatan Indonesia selama pandemi Covid-19.

Mayoritas tenaga kesehatan di Indonesia masuk dalam kategori sedang (82%) dan satu persen mengalami burnout tingkat berat.

Lebih detail, meski tim peneliti tidak bisa menyebutkan adanya hubungan antara karakteristik individu dengan keletihan mental secara keseluruhan, dokter yang sudah menikah ditemukan lebih berisiko mengalami dua gejala keletihan mental, yakni keletihan emosi dan kehilangan rasa percaya diri.

Kemudian, meski tidak ada hubungan antara lingkungan kerja dengan keletihan mental secara keseluruhan, dokter umum juga didapati lebih berisiko mengalami tiga gejala, yakni keletihan emosi, kehilangan empati dan kehilangan rasa percaya diri.

Sementara itu, tenaga kerja yang menangani Covid-19 lebih berisiko mengalami keletihan emosi sebanyak 1,6 kali lipat dan kehilangan empati 1,5 kali lipat. Padahal, burnout merupakan sindrom psikologis akibat respons kronik tehadap suatu konflik.

Gejala burnout adalah emotional exhaustion (keletihan emosi), depersonalization (kehilangan empati), dan reduced personal accomplishment (berkurangnya rasa percaya diri).

Keletihan mental disebabkan oleh beban sistem layanan kesehatan yang besar selama pandemi Covid-19, sehingga menimbulkan stres pada tenaga kesehatan. Data yang ada mencatat bahwa sudah ada 100 dokter, 55 perawat. 8 dokter gigi dan 15 bidan yang wafat karena Covid-19.

Burnout juga bisa menyebabkan gangguan mental, sehingga sangat penting untuk mengetahui kondisi mental para tenaga kesehatan pada masa pandemi.

Ketua Tim Penelitian dari Program Studi MKK FKUI Dr. dr.Dewi S Soemarko, MS, SpOK dalam pemaparan Penelitian Burnout di Kalangan Tenaga Kesehatan Indonesia di Masa Pandemi Covid-19, Jumat (4/9/2020) berkata bahwa temuan mayoritas tenaga kesehatan Indonesia dalam tingkat burnout sedang bukan berarti kita bisa bersantai.

Temuan ini justru menjadi peringatan untuk meningkatkan kewaspadaan dan pencegahan dini, karena tingkat burnout bisa naik menjadi berat. “Sehingga pemerintah perlu memberikan dukungan psikologis untuk tenaga kesehatan, yaitu, memberikan fasilitas layanan konseling pada tenaga kerja yang membutuhkan.” tutur Dewi.

Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia mengatakan bahwa ahli medis bagaikan “aset” saat seperti ini. “Ahli medis bisa dikatakan sebagai aset dikarenakan 1 dokter bisa lulus sekitar 6 tahun, kabar baiknya adalah di Indonesia tahun ini lulus 6000 dokter yang diharapkan bisa membantu tenaga medis yang lain,” tutur Ari.[]

(Visited 4 times, 1 visits today)

Artikel Terkait

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.