Mengenal Kesenian Ubrug, Teater Rakyat Banten yang Melegenda

Pernah dengar kesenian ubrug? Ubrug adalah salah satu kesenian khas Banten. Istilah Ubrug berasal dari bahasa Sunda ‘sagebrugan’ yang berarti campur aduk dalam satu lokasi. Ini menggambarkan unsur-unsur kesenian ubrug, seperti pemain, nayaga, dan penonton yang tumplek dalam satu lokasi. Kesenian Ubrug termasuk teater rakyat yang memadukan unsur lakon, musik, tari, dan pencak silat. Semua unsur itu dipentaskan secara komed.

Menurut budayawan Tisna Sopandi, kesenian rakyat ini sudah ada di Banten sebelum tahun 1918. Di masa lalu, Ubrug biasanya pentas pada acara hajatan. Kelompok kesenian ubrug di Banten menggunakan nama-nama unik seperti Ubrug Baskom, Tolay, Kobet, Nyi Ponah, Mang Cantel, Si Jari, Rasim, Kasnadi, dan sebagaina. Bahasa yang digunakan dalam pementasan, terkadang penggabungan dari bahasa Sunda, Jawa, dan Melayu (Betawi).

Sementara itu, pendapat Mutia Kasim (dalam Walidat, 1997), yang menyebutkan bahwa Ubrug diambil dari kata ngagebrug. Dalam pertunjukan Ubrug, semua pemain, baik laki-laki maupun perempuan, tua muda, beserta para penonton sama-sama menempati satu tempat pertunjukan atau sagebrug (bahasa Sunda).

Dilansir dari berbagai sumber, ada beberapa lokasi sebaran kesenian Ubrug di Banten,  diantaranya di Kecamatan Cikande bagian utara, Kragilan, Carenang, Pontang, Tirtayasa, Kasemen, Ciruas, Walantaka, Taktakan, Waringin Kurung, Kramat Watu, Bojonegara, Merak, Cilegon, Anyar, Mancak, Cinangka, Ciomas, Pabuaran, Padarineang, dan Pamarayan sebelah utara. Di daerah ini bahasa yang digunakan yaitu bahasa Jawa Banten, sedangkan yang berbahasa Sunda terdapat di Kecamatan Cikande sebelah selatan, Kopo, Cikeusal, Baros, Pamarayan Timur dan Selatan serta Petir.

Selain menyebar di daerah Serang, kesenian ubrug ini pun berkembang dan tersebar hingga ke daerah Tangerang, Lebak, Pandeglang bahkan sampai ke Lampung dan Sumatera Selatan. Pertunjukkan ubrug hampir mirip dengan sandiwara lainnya di Tatar Sunda. Juru nandung (wanita) berperan sebagai pembuka permainan dengan menyanyi Nandung atau disebut ronggeng. Bodor atau pelawak pria bermain dan berpasangan dengan juru nandung dan mengadakan tarian sambil melawak seperti permainan ketuk tilu atau jaipongan. Jika mandor atau ketua RT yang menjadi tuan rumah, biasanya ia selalu ikut di dalam permainan sehingga dengan adanya ketua RT ini, permainan semakin komunikatif dan ramai.

Dalam pementasanya, ada beberapa alat yang digunakan untuk mengiri pementasan Ubrug, yaitu kendang besar, kendang kecil, goong kecil, goong angkeb (dulu disebut katung angkub atau betutut), bonang, rebab, kecrek dan ketuk. Alat-alat ini dibawa oleh satu orang yang disebut tukang kanco karena alat pemikulnya bernama kanco yaitu tempat menggantungkan alat-alat tersebut.

hal menarik lainnya dalam kesenian Ubrug adalah busana yang dipakai oleh para pemainnya. Seperti Juru Nandung mengenakan pakain tari lengkap dengan kipas untuk digunakan pada waktu nandung. Pelawak atau bodor pakaiannya disesuaikan dengan fungsinya sebagai pelawak yang harus membuat geli penonton. Bagi Nayaga tidak ada ketentuan, hanya harus memakai pakaian yang rapi dan sopan dan pakaian pemain disesuaikan dengan peran yang dibawakannya.

Kesenian Ubrug dipentaskan di halaman yang cukup luas dengan tenda seadanya cukup dengan daun kelapa atau rumbia. Pada saat menyaksikan ubrug, penonton mengelilingi arena. Sekitar tahun 1955, ubrug mulai memakai panggung atau ruangan, baik yang tertutup ataupun terbuka di mana para penonton dapat menyaksikannya dari segala arah.

Perkembangan selanjutnya, Kesenian Ubrug berangsur-angsur digunakan untuk hiburan pada acara hajatan, yakni selamatan pernikahan, khitanan, peresmian gedung baru, dan sebagainya. Meski sudah jarang dipentaskan, Kesenian Ubrug masih tetap eksis hingga sekarang, terutama pada event budaya atau pementasan seni.

 

 

(Visited 237 times, 1 visits today)

About The Author

Baca Juga

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.