Bagi pecinta daging ayam, mungkin tak akan berpikir panjang untuk makan brutu atau pantat ayam. Namun, tak sedikit juga yang menghindari konsumsi bagian ayam ini.
Sebenarnya, apa saja kandungan gizi, manfaat, dan efek samping makan pantat ayam untuk kesehatan?
Banyak yang menghindari konsumsi brutu atau pantat ayam karena dianggap tidak layak makan. Pasalnya, bagian ini merupakan tempat keluarnya kotoran ayam.
Namun, ternyata tidak sedikit juga yang tetap menyukai pantat ayam ini karena meyakini bahwa dengan proses pembersihan dan cara memasak yang tepat membuat bagian ini enak dimakan.
Terlepas dari pro dan kontra makan burit ayam, sebenarnya bagian ini juga memiliki sejumlah kandungan gizi sebagaimana bagian lain dari ayam.
Kandungan gizi pantat ayam mencakup:
- air,
- protein,
- serat,
- lemak,
- vitamin B3,
- vitamin B6,
- kalsium, dan
- zat besi.
Secara umum, bagian ini memiliki kandungan lemak lebih banyak karena terdapat kelenjar minyak yang berfungsi sebagai pelumas.
Namun, belum ada penelitian memadai yang menunjukkan seberapa banyak kandungan lemak di bagian brutu ini.
Pasalnya, pantat ayam bukanlah bagian yang secara umum dikonsumsi oleh masyarakat di berbagai belahan dunia.
Adanya sejumlah kandungan gizi pada pantat ayam membuat bagian ini bisa memberikan beberapa manfaat untuk kesehatan.
1. Kaya akan lemak
Lemak sangat dibutuhkan tubuh untuk memastikan fungsi organ berjalan dengan baik, seperti membangun membran sel serta membantu penyerapan vitamin, A, E, dan D.
Namun, menurut situs Harvard Medical School, Anda memerlukan lemak sehat untuk mendapatkan efek positif tersebut bagi kondisi kesehatan jangka panjang.
Makan brutu dalam porsi wajar mungkin dapat membantu memenuhi kebutuhan lemak harian Anda karena memiliki kandungan lemak yang cukup tinggi.
Meski begitu, Anda tetap perlu memperhatikan cara memasak brutu tersebut agar tidak menyebabkan menumpuknya lemak trans atau lemak jenuh.
Pasalnya, memasak pantat ayam maupun bagian lainnya seringkali dengan proses penggorengan dengan menggunakan minyak.
2. Mendukung pembentukan sel dan otot
Sebagaimana bagian daging ayam lainnya, pantat ayam juga memiliki kandungan protein yang dibutuhkan tubuh.
Zat gizi makro ini dibutuhkan untuk meningkatkan massa otot, fungsi sel, hingga mendukung pertumbuhan.
Tak heran bila anak-anak di usia emas disarankan untuk mengonsumsi protein sekitar 30% dari kebutuhan gizi harian.
Namun, bukan berarti Anda dan keluarga hanya perlu makan bagian brutu ini untuk memenuhi kebutuhan protein.
Anda dapat mengonsumsi brutu ini bersama bagian paha yang cenderung lebih empuk dan mengenyangkan.
3. Melancarkan pencernaan
Pantat ayam menawarkan kandungan serat yang dapat membantu memenuhi kebutuhan serat Anda. Namun, jumlah seratnya tidak banyak.
Lanjutkan Membaca
Kebutuhan serat harian perlu Anda penuhi untuk mengikat air dalam tubuh guna melancarkan saluran pencernaan.
Jika kekurangan serat, Anda akan berisiko mengalami masalah pencernaan seperti sembelit.
Tak hanya itu, serat juga memegang peranan penting dalam mengontrol kadar gula darah dan kolesterol jahat dalam tubuh.
4. Mengandung vitamin B3 dan B6
Di balik ukurannya yang kecil, pantat ayam ternyata menyimpan kandungan vitamin B3 dan B6.
Vitamin B merupakan jenis vitamin larut air yang memiliki andil penting dalam pembentukan sel dan fungsi otak.
Secara spesifik, mengutip dari buku Vitamin B3 (2022), vitamin ini memiliki andil penting dalam meningkatkan kadar high-density cholesterol (HDL).
HDL sendiri merupakan jenis kolesterol baik yang dapat mencegah ateroma atau penyempitan pembuluh darah akibat lemak.
5. Mendukung kesehatan tulang
Meski belum ada penelitian yang memadai untuk mengetahui jumlah kalsium dalam brutu secara pasti, Anda mungkin tak ingin melewatkan manfaat kandungan ini.
Kalsium dikenal dengan fungsinya untuk menjaga kesehatan dan kepadatan tulang. Bahkan, pada anak-anak, kalsium sangat penting untuk masa pertumbuhan tulang dan gigi.
Mengutip dari penelitian dalam jurnal Nutrients (2019), mengendalikan tekanan darah, mencegah hipertensi pada ibu hamil, dan menurunkan risiko osteoporosis.[]




