Sekarang ini banyak konten seperti foto, video, atau audio figur publik yang ternyata buatan atau dipalsukan. Hal tersebut disebut sebagai deepfake, yaitu upaya memalsukan foto, video, atau audio memakai teknologi AI sehingga terlihat sangat nyata.
Fenomena deepfake ini bisa mengecoh siapapun. Dengan deepfake, pelaku bisa menipu target yang biasanya tidak menyadari atau tidak bisa membedakan konten palsu dan asli.
Dilansir dari situs MIT (Massachusetts Institute of Technology), ada beberapa tips untuk membedakan konten yang telah dimanipulasi deepfake, yaitu:
- Perhatikan transformasi wajah, apakah natural atau terlihat kaku.
- Perhatikan bagian pipi dan dahi, apakah kulit terlampau halus atau terlampau keriput dan sesuaikan dengan usia kulit, rambut, dan mata. Biasanya deepfake sering tidak sesuai satu sama lain.
- Perhatikan mata dan alis, apakah ada bayangan muncul di tempat yang tidak seharusnya. Deepfake seringkali tidak bisa memberikan bayangan alami.
- Perhatikan kacamata, apakah ada pantulan sinar saat orang dalam konten bergerak.
- Perhatikan rambut di wajah seperti kumis atau janggut, apakah terlihat nyata dan alami.
- Perhatikan tahi lalat, apakah terlihat nyata atau tiba-tiba berpindah (eror).
- Perhatikan kedipan, apakah orang dalam konten itu berkedip dengan normal.
- Perhatikan ukuran dan warna bibir, apakah cocok dengan bagian wajah lain.
Untuk menghadapi perkembangan teknologi saat ini diperlukan ketelitian dan kehati-hatian agar tidak tertipu konten digital yang dimanipulasi. Masyarakat dituntut untuk pintar dalam melihat kejanggalan yang ada di setiap konten yang diakses.
[Radika]



