Sebuah video yang memperlihatkan seorang perempuan pingsan saat berolahraga lari di Gunung Papandayan ramai menjadi sorotan. Pasalnya, perempuan tersebut akhirnya menghembuskan napas terakhir akibat kehabisan oksigen.
Diduga perempuan di dalam video yang diunggah kanal YouTube Jaja Jalaludin tersebut, pada Senin (11/10/2021), adalah Icha Stephen, istri Kepala Biro Operasional (Karo Ops) Polda Jawa Barat Kombes Pol. Stephen M. Napiun.
Kasus seseorang yang meninggal dunia usai menjalani olahraga kerap terjadi. Dalam keadaan tertentu, olahraga justru berakibat fatal hingga membuat seseorang kehabisan tenaga, pingsan, bahkan berakhir kematian.
Dilansir dari CNN Indonesia, Dokter Umum Herman Irawan mengatakan otot membakar glikogen saat tubuh berolahraga. Glikogen merupakan karbohidrat yang disimpan di dalam otot dan terbentuk pada orang-orang yang terbiasa berolahraga.
“Saat tidak terbiasa berolahraga, tubuh akan dengan cepat kehilangan glikogen. Saat terus diforsir maka akan membuat tubuh kekurangan oksigen, kekurangan gula,” ungkap Herman.
Selain itu, tubuh juga dapat mengalami hyperventilation atau bernapas terlalu cepat saat terlalu memaksakan diri berolahraga melewati ambang batas kemampuan diri. Normalnya, laki-laki bernapas 16 kali dan perempuan bernapas 20 kali dalam satu menit.
Kondisi ini terjadi saat pembakaran glikogen menghasilkan asam laktat berupa gas CO. Zat ini harus segera dibuang dari dalam tubuh.
Bernapas dengan cepat merupakan bentuk pertahanan diri alami agar dapat mengeluarkan gas CO. Namun, saat olahraga terlalu dipaksa dan gas CO tidak mampu dikeluarkan oleh tubuh, tubuh dapat mengalami keracunan.
“Saat otot pernapasan lelah dan tubuh keracunan maka dapat menyebabkan black out atau pingsan. Ditandai dengan pucat, lalu mual, kelelahan,” ujar Herman.
Kasus ini biasanya tidak sampai menyebabkan kematian jika cepat mendapatkan perawatan. Kasus kematian mendadak saat berolahraga biasanya dipicu oleh penyakit jantung dan pembuluh darah atau kardiovaskular.
Hal ini terjadi karena penumpukan kolesterol di dalam pembuluh darah. Saat berolahraga, sumbatan kolesterol terlepas dan justru menyerang jantung.
“Pada orang yang tidak pernah berolahraga, begitu mencoba olahraga berat, jantung dipompa sangat keras dan sumbatan kolesterol lepas bisa menyerang jantung menjadi jantung koroner atau ke otak menjadi stroke,” tutur Herman.
Herman menyarankan, setiap orang harus mulai rutin berolahraga menyesuaikan dengan kemampuan diri. Hal ini untuk menghindari akibat fatal dari berolahraga.
Disarankan, setiap orang berolahraga 3-5 kali seminggu, masing-masing 20-30 menit. Berolahraga secara rutin memberikan manfaat bagi kesehatan seperti mengurangi risiko penyakit jantung, obesitas, dan diabetes.



