BerandaBERITA‎Aktivis Serang Selatan Kritik Tunjangan dan Fasilitas Berlapis Pimpinan Dewan

‎Aktivis Serang Selatan Kritik Tunjangan dan Fasilitas Berlapis Pimpinan Dewan

‎SERANG, Sultantv.co – Besaran tunjangan dan fasilitas pimpinan DPRD Kabupaten Serang menuai sorotan tajam dari kalangan aktivis. Salah satu yang vokal mengkritik adalah aktivis Serang Selatan, Ibrahim Aryadillah alias Baim.

‎‎Menurutnya, besaran tunjangan dan fasilitas pimpinan DPRD yang merujuk pada Peraturan Pemerintah Nomor 90 Tahun 2024 dinilai tidak mencerminkan empati terhadap kondisi masyarakat yang masih terbebani berbagai persoalan ekonomi.‎‎

Adapun rincian penghasilan tersebut meliputi uang representasi atau gaji pokok sebesar Rp2.100.000 yang setara dengan gaji bupati, uang paket Rp210.000, serta tunjangan sebesar Rp3.045.000. ‎‎Selain itu, pimpinan DPRD juga menerima tunjangan perumahan sebesar Rp31.764.706 dan tunjangan transportasi Rp28.750.000. Sementara dana operasional tercatat mencapai Rp12.600.000 per bulan.

‎‎“Rakyat lagi susah, tapi pejabatnya hidup nyaman dengan fasilitas berlapis. Ini bukan sekadar ironi, ini sudah keterlaluan,” ujar Baim dalam keterangannya, Rabu, 15 April 2026.

‎‎Ia juga menanggapi pernyataan Ketua DPRD Kabupaten Serang, Bahrul Ulum, yang menyebut pemberian tunjangan tersebut merupakan kewenangan bupati melalui Peraturan Bupati (Perbup). Menurutnya, pernyataan tersebut terkesan sebagai bentuk lempar tanggung jawab.‎‎

“Kalau bilang itu Perbup, jangan setengah-setengah. Itu produk bupati lama. Jangan sekarang seolah-olah dilempar ke bupati yang sedang bekerja,” tegasnya.

‎‎Baim menilai sikap DPRD tidak konsisten. Di satu sisi kerap mengkritik kebijakan eksekutif, namun di sisi lain tetap menikmati kebijakan lama yang dinilai menguntungkan mereka sendiri.‎‎

“Kalau berani kritik, harusnya juga berani koreksi diri. Jangan hanya galak ke eksekutif, tapi nyaman dengan fasilitas sendiri,” katanya.‎‎

Lebih jauh, ia mendesak Pemerintah Kabupaten Serang untuk segera meninjau ulang Perbup yang mengatur tunjangan DPRD karena dinilai sudah tidak relevan dengan kondisi masyarakat saat ini.‎‎

“Kalau aturan itu memberatkan rakyat dan menguntungkan pejabat, ya harus direvisi. Jangan dipertahankan hanya karena menguntungkan segelintir orang,” ujarnya.‎‎

Menurut Baim, kondisi tersebut mencerminkan adanya krisis empati di tubuh legislatif Kabupaten Serang yang dinilai semakin jauh dari realitas masyarakat.‎‎

“DPRD hari ini seperti hidup di dua dunia. Di atas kertas bicara rakyat, tapi di lapangan rakyat tidak mereka rasakan,” sindirnya.

‎‎Ia pun menutup dengan kritik keras terhadap para wakil rakyat.‎‎“Jangan jadikan jabatan sebagai tempat menikmati fasilitas, tapi lupa kewajiban. Kalau cuma pintar menyalahkan tapi tidak berani memperbaiki, itu bukan wakil rakyat, itu beban rakyat,” pungkasnya. (Red/ RG)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Most Popular