Empal gentong merupakan sajian kuliner istimewa khas Cirebon. Sekilas, kuliner yang masuk dalam WBTB ini mirip dengan gulai. Padahal, dari cara pembuatan dan penyajiannya berbeda.
Pada awalnya, empal gentong dibuat dari daging kerbau. Salah satu keunikannya, daging kerbau tersebut dimasukkan ke dalam gentong yang terbuat dari tanah kemudian dimasak dengan menggunakan kayu asam.
Masih merujuk pada laman milik Disbudpar Kota Cirebon, empal gentong awalnya diciptakan oleh masyarakat Desa Battembat pada tahun 1950-an. Kala itu, jumlah kerbau ternak di desa itu sangatlah banyak, sehingga para wanita desa ditantang untuk menyajikan kuliner lezat dari daging kerbau.
Namun, lambat laun, bahan dasar empal gentong tak melulu menggunakan daging kerbau, namun beralih ke daging sapi karena memasuki tahun 1980-an, daging kerbau mulai sulit didapatkan. Para peternak saat itu dikisahkan mulai beralih beternak sapi.
Sumber lainnya menyebutkan bahwa empal gentong sedianya telah hadir sejak abad ke-15 di Cirebon. Kuliner ini merupakan produk akulturasi dari empat budaya, yakni budaya Arab, China, India dan Indonesia. Kala itu, Cirebon ibarat menjadi mixed pot atau persinggahan pedagang dari Jalur Sutra.
Daging kerbau digunakan karena ada pengaruh agama Hindu dari India yang melarang penyembelihan sapi. Masakan ini juga merupakan akulturasi kuliner Arab, India, dan Indonesia yang kaya rempah, termasuk China yang kerap menyajikan kuliner berbahan jeroan ternak.
Soal rasa, empal gentong ini juga memiliki rasa yang juara. Irisan daging, jeroan, hati yang ditambah kuah kuning menjadi teman mesra dari nasi. Gurih asin dan sedikit pedas oleh sambal menjadi rasa yang unik yang dimiliki kuliner ini. Empal gentong akan lebih nikmat disantap jika disajikan dengan nasi hangat. Saking populernya kuliner ini, para traveler tidak akan kesulitan untuk menemukan warung Empal Gentong di wilayah Kota Cirebon.
Sumber lain menyebutkan bahwa nama empal gentong diambil dari cara memasaknya yang dibuat di dalam kuali atau perik tanah liat atau gentong. Kemudian dimasak di atas tungku dengan bahan bakar kayu. Proses memasak makanan ini membutuhkan waktu yang sangat lama, minimal lima jam. Poses memasak yang lama membuat empal gentong di Cirebon memiliki rasa yang lezat. Bumbu didalamnya meresap sempurna dan tekstur dagingnya juga matang dan empuk.[]




