Syarat mutlak menjadi diplomat adalah rasa nasionalisme yang kuat. Seburuk dan sebaik apapun negara tempat bertugas, tetep cinta Tanah Air. Itu yang dikatakan Adkhilni M Sidqi, diploma muda asal Serang, Banten pada Special Talkshow Sultan TV, Senin (28/12/2020).
Februari awal tahun depan, Aad, begitu ia disapa, akan bertugas menjadi diplomat di Riyadh, Arab Saudi. Pada penugasan pertama di 2009, Aad ditempatkan di Kairo, Mesir.
“Saat itu sedang masanya Arab spring, Husni Mubarak baru saja turun. Dan kekacauan terjadi di Timur Tengah,” tukas Aad.
Selepas bertugas di Kairo, Aad pergi ke Melbourne, Australia untuk program belajar. Baru pada 2015-2017 Aad ditempatkan di Suriah. Dan saat itu Suriah sedang menjadi pusat konflik. Pada 2017-2019 Aad ditugaskan di Swiss, Eropa.
Menurut Aad, di setiap tempat dia bertugas, beragam hal ditemui. Hal paling utama menjadi duta besar adalah menjalankan fungsi representing, negotiating, promoting, dan protecting. Pada aspek protecting ini yakni melindungi warga negara Indonesia dalam hal hukum dan sebagainya.
Untuk permasalahan di Suriah, Aad menyebut, banyak buruh migran yang dikirim secara ilegal dari Indonesia. Dan Serang termasuk salah satu pemasok TKI atau buruh migran di luar negeri bahkan di negara konflik seperti Suriah.
“Pada 2011 sebelum saya bertugas di Suriah, pengiriman buruh migran sudah ditutup. Tapi saat saya bertugas 2015 di Suriah masih aja ada pengiriman. Mereka dikirim ilegal dan terindikasi perdagangan manusia,” jelas Aad.
Menurut Aad, Indonesia memiliki 132 perwakilan di berbagai negara. Baik berupa kedutaan besar, konsul atau konsul jenderal, dan perwakilan tetap. Tugas mereka antara lain menjadi penghubung Indonesia dengan negara lain.
“Seperti halnya isu yang diusung saat ini gencar melakukan perbaikan ekonomi, resesi ekonomi untuk keluar dari pandemi,” imbuh Aad.
Diplomasi itu dijelaskan Aad, memiliki banyak aspek. Untuk level kepala negara diplomasi berlangsung serius, sementara untuk diplomasi publik bisa dijalankan dengan cara fun.
Aad mengaku, kerap memperhatikan hal-hal positif dari negara tempat ia pernah bertugas. Hal positif tersebut ikut diterapkan Aad saat pulang ke Indonesia. Misalnya pendirian bank sampah digital. Ini berangkat dari pengalaman saat Aad bertugas di Swiss selama dua tahun.
Riwayat pendidikan Aad yakni menempuh SD, SMP, sampai SMA di Kota Serang. Saat SMA, Aad bergabung di Sanggar Sastra Serang asuhan penyair Toto St Radik dan Rumah Dunia aasuhan Golagong. Di sinilah Aad serius menekuni dunia kepenulisan dan menulis buku, artikel, cerpen, juga puisi. Lulus SMA, peraih penulis terbaik Unicef Award dan Ikapi Award ini melanjutkan pendidikan di bidang ilmu hubungan internasional di UGM. (sultantv-01)



