Eddie Van Halen meninggal dunia pada Selasa (6/10/2020) pagi di St. John’s Hospital di Santa Monica, California. Rocker legendaris anak dari seorang perempuan asal Rangkasbitung, Banten, ini meninggal pada usia 65 tahun setelah bertahun-tahun menderita kanker tenggorokan. Kematian gitaris legendaris itu diumumkan putranya Wolf Van Halen melalui Twitter.
“Saya tidak percaya harus menulis ini. Pagi ini aya saya, Edward Lodewijk Van Halen, telah kalah dalam perjuangan panjang dan sulit melawan kanker,” tulis Wolf di akun Twitter-nya, @WolfVanHalen.
“Dia ayah terbaik bagi saya. Setiap waktu saya bersamanya di atas dan di luar panggung adalah hadiah,” lanjut Wolf. “Saya sangat sedih dan rasanya tidak mungkin pulih dari kehilangan ini. Saya menyayangimu Ayah,” pungkas Wolf.
Kompas.com menulis, sebuah sumber yang dikutip People, kondisi Eddie Van Halen merosot tajam dalam tiga hari terakhir. Sementara itu TMZ melaporkan, kanker yang diidap Eddie Van Halen telah menyebar ke otak.
Pada saat-saat terakhirnya dia didampingi Janie istrinya, Wolf, dan Alex Van Halen kakaknya. Beberapa waktu lalu, vokalis band Van Halen, David Lee Roth, mengatakan kepada Las Vegas-Review Journal bahwa kondisi Eddie Van Halen tidak baik.
Eddie Van Halen berjuang melawan kanker selama lebih dari 10 tahun. Dokter mendapati kanker paru-parunya sudah menyebar ke otak dan organ tubuh lainnya. Eddie Van Halen didiagonis menderita kanker lidah pada 2000. Awalnya Van Halen hanya mengaku menjalani rawat jalan untuk mencegah kanker. Belakangan dia mengungkap sepertiga lidahnya diambil dan dinyatakan bebas kanker pada 2002.
Namun pada 2011, kanker itu kembali dan sudah menyebar ke tenggorokannya. “Kanker itu seperti kecoa. Menjadi lebih ganas setelah muncul lagi,” kata Van Halen dalam wawancara dengan Howard Stern. Eddie Van Halen, yang pernah menjadi perokok berat, berpendapat rokok bukan pemicu kankernya.
Menurut dia, kanker di tubuhnya karena pik gitar yang dia gunakan. “Saya menggunakan pik logam, dari kuningan dan tembaga, yang biasanya saya taruh di mulut, tepat di tempat kanker saya muncul,” kata Van Halen kepada Billboard pada 2015.
Selain itu, lanjut Van Halen, dia praktis lebih banyak tinggal di studio rekaman yang penuh dengan energi elektromagnetik. “Itu satu teori. Maksud saya, saya merokok dan memakai narkoba dan banyak lagi. Tetapi paru-paru saya benar-benar bersih. Itu teori saya, tetapi dokter bilang kemungkinan itu ada,” tuturnya.
Selama beberapa tahun terakhir, Eddie Van Halen menjalani berbagai pengobatan nontradisional, bahkan yang eksperimental menggunakan radioaktif, untuk menyembuhkan kankernya.
Ketika band Van Halen terlihat tidak aktif, penggemar mulai berspekulasi tentang kesehatannya. Pada Juni 2019, Eddie Van Halen terlihat botak dan pucat beredar di media sosial, penggemar pun semakin mengkhawatirkan keadaannya.
Riwayat Karier
Eddie Van Halen dan kakaknya, Alex, mendirikan band Van Halen di Pasadena, California, pada 1972. Sejak itu band tersebut telah merilis 12 album studio, termasuk yang terakhir A Different Kind of Truth pada 2012.
Darah musik mengalir di tubuh Eddie berkat ayahnya, Jan Van Halen, yang merupakan seorang musisi. Jan van Halen merupakan musisi profesional dari Amsterdam yang memainkan saksofon dan klarinet.
Setelah melewati masa-masa sulit dalam hidupnya, Jan akhirnya bertemu dengan Eugenia van Beers di Indonesia. Eugenia van Beers adalah seorang perempuan blasteran Indonesia-Belanda yang lahir pada 21 September 1914 di Rangkasbitung, Banten.
Pemilik nama panjang Edward Lodewijk Van Halen ini dilahirkan di Amsterdam, Belanda, pada 26 Januari 1955. Jan dan Eugenia akhirnya memutuskan untuk mencoba peruntungan hidup baru di Amerika Serikat.
Keluarga Van Halen pindah dari Belanda ke Amerika Serikat ketika Eddie berusia 7 tahun. Dengan hanya bermodal 75 guilders, mata uang Belanda saat itu, Jan dan Eugenia memboyong keluarganya ke Pantai Barat AS, tepatnya di Pasadena, California.
Eddie van Halen dan kakaknya, Alex, sudah mendapat pelajaran piano klasik saat duduk di bangku SMA. Eddie mengatakan, keluarganya sangat senang bermain musik. Bahkan, saat mereka masih kecil, Eddie dan Alex sering bermain dengan panci dan wajan, sementara sang ayah berlatih musik.
Eddie sendiri tidak pernah belajar membaca not balok. Meski begitu, ia berdalih memiliki pendengaran yang tajam.
“Saya diberkahi telinga yang bagus. Saya harus melihat jari-jari saya bergerak. Percaya atau tidak, saya tidak pernah bisa bermain gitar secara bagus dalam kegelapan. Saya harus melihat jari-jari saya,” ujarnya. Untuk menjaga warna musik Van Halen tetap relevan, band itu bersikeras tidak mengikuti tren. Eddie menceritakan, bandnya pernah mencoba warna musik lain.
“Kami dikontrak oleh Warner Brothers pada 1977 di tengah tren punk dan disco. Kami tampak aneh. Tentu saja kalau main di klub kami main lagu-lagu Top 40, tetapi saya tidak pernah bisa membuat suara seperti semestinya. Saya tidak bisa meniru permainan orang,” ujarnya
Pada akhir era 60-an dan awal 70-an, Eddie dan Alex mulai mengenal musik pop dan rock. The Beatles dan The Rolling Stones merupakan dua nama paling terkenal pada masa tersebut. Eddie dan kakaknya, Alex, membentuk band pertama mereka, Broken Comb, pada 1964. Nama band bentukan kakak beradik itu terus berganti. Pada 1974, Eddie Van Halen akhirnya membentuk band Van Halen, tepat ketika vokalis David Lee Roth dan bassist Michael Anthony bergabung.
Pada akhir era 70-an, nama Van Halen mulai dikenal luas karena permainan gitar dari Eddie.
Band Van Halen mulai merintis jalan di industri musik dari Los Angeles. Mereka bermain di pesta-pesta rumahan dan sekolah. Akhirnya mereka bisa tampil di Whiskey a Go Go, sebuah kelab malam legendaris di West Hollywood yang menampilkan band-band rock. Van Halen menandatangi kontrak rekaman dengan label musik pada 1977.
Album pertamanya, Van Halen, dirilis pada 10 Februari 1978. Sejak itu popularitas Van Halen tidak terbendung dan menjadi salah satu band rock terbesar dunia.
Seperti diketahui, Eddie Van Halen dikenal dengan teknik gitar tapping dua tangannya. Berbekal semangat bermusik yang tinggi, band dengan beranggotakan Alex, Eddie, Michael Anthony, dan David Lee Roth ini akhirnya sedikit demi sedikit mencicipi kesuksesan.
Eddie membentuk salah satu band rock paling populer pada 1980-an bersama Alexander Arthur “Alex” Van Halen (kakak Eddie), Michael Anthony, dan David Lee Roth. Van Halen, demikian nama band itu, diambil dari nama keluarga Eddie dan Alex. Lagu-lagunya yang populer antara lain “Jump” dan “Why Can’t This Be Love”.
Kesuksesan itu dimulai sejak 1978 setelah Van Halen secara konsisten bermain di bar, klub, dan hotel. Adalah Warner Bros label pertama yang menawari kontrak untuk membuat debut album Van Halen. Album debut dengan singel “Running With the Devil” tersebut meledak di pasaran dan menguasai tangga lagu berbagai belahan dunia. Lagu-lagu hits seperti “Jump” dan “Why Can’t This Be Love” selanjutnya menjadi lagu-lagu wajib untuk para penggemar Van Halen.
Banyak yang mengira ia terlahir sebagai bintang rock. Tidaklah demikian.
Eddie menyusuri jalan kehidupan yang berliku pada masa kecilnya. Keluarga Van Halen berimigrasi ke California pada 1962 membawa mimpi tinggal di “tanah terjanji”. Ayahnya adalah musisi yang juga bekerja sebagai seorang cleaning service. Sementara itu, ibunya yang keturunan Indonesia bekerja sebagai pembantu rumah tangga.
Keluarga Van Halen pernah tinggal di sebuah rumah bersama tiga keluarga lainnya. “Kami datang ke sini (Amerika) dengan 50 dollar AS dan piano,” ujar Van Halen.
“Kami datang dari belahan dunia lain tanpa uang, tanpa pekerjaan tetap, tanpa tempat tinggal, dan tidak bisa berbicara bahasa Inggris,” tambahnya.
Ayah Eddie, Jan van Halen, bertemu dengan Eugenia di Indonesia saat penjajahan Belanda. “Yang menyelamatkan kami adalah karena ayah saya seorang musisi dan lambat laun bertemu musisi lain dan manggung pada akhir pekan, mulai dari acara perkawinan sampai apa pun untuk menghasilkan uang,” tutur Eddie.
Eddie pernah berkisah tentang perlakuan diskriminatif yang ia terima karena ia keturunan Eropa-Asia (Indonesia). Perlakuan itu ia dapatkan saat bersekolah di Amerika.
Sekolah pertama dia ketika itu masih memisahkan murid kulit putih dan kulit berwarna. Karena ia dianggap warga kelas dua saat itu, disamakan dengan orang-orang kulit hitam.[sultantv]


