More

    Menengok Pesona Stasiun Anyer Lor yang Kian Memudar

    SERANG – Pemerintah Hindia Belanda melalui Perusahaan Kereta Api (KA) milik Pemerintah, Staatsspoorwegen (SS) membuka keterpencilan daerah Banten dengan jalur KA dari Batavia (Jakarta) menuju ke Anyer di pesisir Selat Sunda melalui Rangkasbitung dan Cilegon pada tahun 1900.

    Jalur KA di Banten semakin berkembang dengan dibukanya jalur pedalaman Banten menuju ke pelabuhan perikanan Labuan, yaitu jalur Rangkasbitung-Saketi-Labuan pada tahun 1906.

    Salah satu bukti sejarah yang tersisa dari masa itu, adalah Stasiun Anyer Utara atau Lor, yang dibangun tahun 1900. Stasiun ini terletak dekat Pasar Anyer, atau tepatnya di Kampung Anyer Lor, Anyer, Kabupaten Serang Banten

    Stasiun ini digunakan untuk mengangkut ribuan ton batu untuk pembangunan Bendung Pamarayan.

    Atas nilai sejarah tersebut, tim Jelajah Pesisir Banten 2022 mendatangi lokasi tersebut. Meskipun, saat ini kondidinya memprihatinkan akibat kurang terawat dan sisi kiri-kanan dipenuhi permukiman warga.

    Sebenarnya bangunan bekas Stasiun Anyer Lor tetap menunjukkan pesona masa lalunya, tetapi sangat tidak terawat. Tulisan ”Anjerlor” masih melekat di dinding stasiun, tetapi rapuh.

    Pada tahun 1900, Stasiun Anyer Lor menjadi stasiun kereta api satu-satunya yang terletak di ujung paling barat Pulau Jawa. Diperkirakan, antara tahun 1980 dan 1990, jalur menuju stasiun ini dihentikan.

    Nasib Stasiun Anyer Lor yang merana memang tak jauh berbeda dengan ratusan bekas stasiun dan halte di jalur mati kereta api. Namun, ada satu yang berbeda dengan stasiun ini.

    Stasiun Anyer Lor masih berpotensi menjadi aset wisata. Selain lokasinya dekat dengan kawasan wisata pantai di Anyer, stasiun ini memiliki riwayat sebagai stasiun ujung Pulau Jawa di bagian barat yang kali pertama dibangun.

    ”Banyak juga anak-anak sekolah dan mahasiswa yang mendapat tugas mengunjungi stasiun ini. Mereka justru yang banyak bertanya soal sejarah stasiun ini kepada saya,” kata Nur, salah seorang penduduk setempat.

    Pemerintah seakan abai akan potensi ekonomi yang bisa didatangkan dari aset wisata sejarah stasiun kereta api ini. Lebih tepatnya, PT Kereta Api Indonesia yang menangani warisan atau peninggalan aset perkeretaapian tidak pernah berbuat banyak untuk warga setempat. (Bum)

    Artikel Terkait

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini

    Stay Connected

    10,527FansSuka
    16,400PengikutMengikuti
    37,500PelangganBerlangganan
    - Advertisement -

    Artikel Terbaru