Justice League adalah tim superhero andalan DC yang film live action-nya baru bisa diwujudkan pada tahun 2017. Meskipun di komiknya sudah ada sejak tahun 60-an, dan sudah banyak film yang berfokus pada karakter DC, tetapi Warner Bros. bersama DC Films baru bisa mewujudkannya di semesta sinematik yang disebut DC Extended Universe. Ditinggalkan oleh Zack Snyder karena tragedi yang menimpa keluarganya, pada akhirnya film Justice League diselesaikan oleh Joss Whedon yang sebelumnya menggarap film Marvel The Avengers (2012) dan Avengers: Age of Ultron (2015).
Meskipun antusiasmenya sangat tinggi pada saat itu, film Justice League versi Joss Whedon mendapatkan banyak kritik terkait banyak adegan yang tidak mencerminkan DCEU dan juga tidak berhasil memaksimalkan potensi para karakternya, termasuk supervillain utama Steppenwolf yang diperankan oleh Ciarán Hinds.
Kurangnya Pendekatan dalam Pengenalan Karakter
Sudah menjadi rahasia umum bahwa DC Comics dan Marvel seakan tak pernah berhenti bersaing untuk menyajikan film-film yang mengangkat tema superhero. Kalau lo sudah menonton Justice League, pasti tahu kalau di film ini enggak hanya ada Batman dan Wonder Woman, tapi banyak karakter baru yang muncul secara bersamaan seperti Flash, Cyborg, dan Aquaman.
Bisa jadi, kehadiran para karakter baru tersebut membuat para penonton kehilangan antusiasme mereka karena belum pernah ada pengenalan lewat seri-seri film sebelumnya. Berbeda dengan The Avengers yang karakternya sudah diperkenalkan satu per satu melalui film-film sebelumnya.
Terlalu Banyak Film Superhero yang Dirilis dalam Waktu Bersamaan
Di Amerika Serikat, Justice League dirilis bertepatan dengan momen Thanksgiving, saat beberapa film superhero lain juga yang masih tayang. Misalnya Thor: Ragnarok yang telah dirilis beberapa Minggu sebelumnya, dan The Punisher yang juga ditayangkan pada hari yang sama oleh Netflix.
Rekor Terburuk dalam Sejarah DC Comics
Dalam pekan pertama penayangannya, Justice League hanya mampu meraup pendapatan sebesar 94 juta dolar AS atau 1,27 triliun rupiah. Padahal, biaya pembuatan filmnya menghabiskan sekitar 4 triliun rupiah.
Pendapatan ini dinilai merupakan yang terburuk sepanjang sejarah DC Comics, karena film keluaran DC Comics lainnya lebih baik dari itu. Misalnya, Man of Steel yang berhasil meraup 116 juta dolar AS di pekan pertama, ataupun Wonder Woman sebesar 103 juta dolar AS dengan biaya produksi separuh dari Justice League.
Meski demikian, penyayangan Justice League di luar AS cukup mendapatkan respons yang positif, termasuk di Indonesia.[]





