Kecelakaan di perlintasan kereta api terjadi di Kampung Toplas, Desa Selibu, Kecamatan Kragilan, Kabupaten Seran, Banten pada Selasa (26/7/2022) pukul 11.00 WIB. Sebuah odong-odong yang membawa 25 penumpang tertabrak kereta api saat melintasi perlintasan tanpa palang pintu. Akibat kecelakaan tersebut, 9 orang tewas. Mereka terdiri dari 3 perempuan dewasa dan enam orang anak-anak.
Odong-odong adalah wahana permainan anak-anak yang menjadi alternatif hiburan anak-anak kalangan menengah ke bawah. Dalam perjalanannya, odong-odong mengalami perubahan dari segi desain hingga bentuk, mulai dari odong-odong sepeda hingga odong-odong mobil.
Nama odong-odong berasal dari kesenian Sunda tepatnya dari Subang, yaitu Sisingaan. Hal ini diungkapkan oleh Suwardi Alamsyah P dalam tulisan berjudul Sisingaan: Kesenian Tradisional Kabupaten Subang yang sudah diterbitkan di situs Kemendikbud dan bisa dibaca.
Dalam tulisannya, Suwardi menjelaskan bahwa penamaan odong-odong untuk sisingaan dipelopori oleh Mas Nanu Munajar, seorang seniman akademisi yang berasal dari daerah Subang. Ia berpendapat bahwa kesenian Sisingaan berawal dari kesenian Odong-odong yang awalnya memiliki fungsi dan makna ritual.
Jauh sebelum agama-agama besar masuk, masyarakat di daerah Subang telah memiliki tradisi yang berkaitan dengan aktivitas pertanian, yaitu tradisi ‘odong-odong’. Tradisi yang dimaksud adalah kepercayaan yang memuja dan mengagungkan padi dan para leluhur serta kekuatan-kekuatan supranatural. Sisingaan sendiri diperkirakan sudah ada sejak tahun 1857.
Dalam tradisi awal odong-odong ini dilangsungkan, dengan cara mengarak sesuatu benda yang dibentuk menyerupai binatang tertentu dan diiringi dengan bunyi ‘surak’ (tepuk tangan berirama). Peniruan bentuk binatang ini adalah ekspresi dari kepercayaan totemisme (kepercayaan dan pemuliaan terhadap hewan tertentu). Odong-odong ini biasa dipertunjukan pada konteks ritual, seperti ritual pertanian, dan upacara Ngaruwat Bumi.
Subang secara politik dikuasai Belanda, namun secara ekonomi Subang dijajah Inggris. Dengan “keistimewaan” yang dimilik oleh Subang, menjadikan masyarakat kreatif kala melawan penjajah yang masuk ke Indonesia, khususnya Subang.
Singa sejatinya merupakan hewah ‘keramat’ dan menjadi simbol kekuatan Inggris. Karena itu, Sisingaan menjadi momok bagi warga Inggris. Lantaran masyarakat Subang dan berkesenian dengan menaiki patung singa. Kala itu, moral tentara Inggris turun, dan membuat Inggris perlahan mengundurkan diri.
Odong-odong menjamur di Indonesia pada tahun 2000-an, salah satunya yakni Jakarta. Dalam perkembangannya, odong-odong mengalami perubahan, teman-teman. Odong-odong menjadi bisa bertransportasi menyusuri jalanan dalam jarak pendek.
Odong-odong yang menyusuri jalan dalam jarak pendek juga bisa disebut kereta kelinci. Namun, sayangnya, odong-odong jenis ini tidak boleh beroperasi di jalan raya, ya. Odong-odong dilarang dengan tegas untuk beroperasi di jalan raya karena membahayakan penumpang dan pengguna jalan yang lain.[]





