Sultantv.co, Sidoarjo – Tragedi ambruknya musala di Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Khoziny, Sidoarjo, yang menewaskan puluhan santri, menjadi pelajaran pahit bagi dunia pendidikan keagamaan di Indonesia. Menurut pakar mitigasi bencana Universitas Airlangga, Dr. Hijrah Saputra, peristiwa ini seharusnya tidak dianggap semata sebagai takdir, melainkan kegagalan struktural yang bisa dicegah.
“Kalau dilihat dari aspek teknis, ini bukan bencana alam. Ini kegagalan konstruksi murni,” ujar Hijrah, Senin (6/10).
Ia menjelaskan, dari analisis visual dan citra satelit, bangunan tersebut tampak awalnya hanya satu lantai. Namun, dalam perkembangannya, ditambah hingga tiga bahkan lima lantai tanpa perhitungan teknis yang matang. “Kolomnya kecil, tidak proporsional menanggung beban tambahan. Ini praktik berisiko tinggi,” tambahnya.
Bangunan Tumbuh, Risiko Bertambah
Hijrah menyoroti fenomena “bangunan tumbuh” di banyak pesantren, yaitu pembangunan yang dilakukan secara bertahap tanpa konsultasi dengan ahli struktur. Biasanya, dana berasal dari swadaya jamaah, dan pengerjaan dilakukan oleh tukang lokal, bahkan kadang dibantu santri sendiri.
“Keikhlasan itu baik, tapi dalam pembangunan, ikhlas harus dibarengi ilmu. Karena keselamatan jamaah juga tanggung jawab spiritual,” ujarnya tegas.
Menurut Hijrah, ribuan pesantren di Indonesia memiliki pola pembangunan serupa — spontan, tidak terdokumentasi, dan tanpa pengawasan teknis. Karena itu, ia menyerukan pemerintah untuk segera melakukan audit konstruksi dan inspeksi keamanan bangunan pesantren di seluruh Indonesia.
Momentum untuk Reformasi Keselamatan
Tragedi Al-Khoziny, kata Hijrah, harus menjadi momentum nasional untuk memperkuat tata kelola keselamatan di lembaga pendidikan agama. Ia mengusulkan agar Kementerian Agama berkolaborasi dengan Kementerian PUPR dalam menyusun standar bangunan pesantren yang aman dan tahan gempa.
“Setiap pesantren perlu mendapat pendampingan teknis dari insinyur bersertifikat. Minimal ada edukasi untuk mengenali tanda-tanda bahaya, seperti dinding retak atau kolom miring,” jelasnya.
Hijrah juga menekankan pentingnya kesiapsiagaan dalam penyelamatan korban. Dalam konteks bencana bangunan ambruk, “golden time” selama 20 jam pertama sangat krusial untuk menemukan korban dalam kondisi hidup.
Dari Reruntuhan, Tumbuh Kesadaran
Hingga kini, 52 santri meninggal dunia akibat ambruknya bangunan tiga lantai di Ponpes Al-Khoziny. Tim SAR gabungan masih melakukan evakuasi dan pengamanan struktur bangunan yang tersisa.
Bagi Hijrah, tragedi ini bukan sekadar peristiwa lokal, tapi refleksi nasional tentang pentingnya ilmu dan keselamatan dalam setiap pembangunan rumah ibadah.
“Pesantren adalah tempat menimba ilmu, bukan tempat kehilangan nyawa. Jangan sampai rumah Tuhan berubah jadi reruntuhan karena kelalaian manusia,” pungkasnya.





