More
    BerandaBERITATsunami dan Tanah Longsor Sebagai Peringatan Bencana di Masa Depan

    Tsunami dan Tanah Longsor Sebagai Peringatan Bencana di Masa Depan

    Meningkatnya suhu di bumi dapat menyebabkan gletser mencair sehingga dapat memicu tsunami yang besar. Masalah ini akan semakin memburuk terutama di sepanjang garis pantai di Greenland, Patagonia dan Norwegia. Ini karena potongan batu besar menabrak air yang dapat memicu gelombang tinggi.
    Apabila suhu naik dan es mulai mundur dapat meningkatkan risiko tanah longsor yang berbahaya.

    Peristiwa tanah longsor dan tsunami yang terjadi di Gletser Tyndall Alaska pada tahun 2015 menjadi awal bagi para peneliti menemukan sidik jari geologis tsunami. Satu lereng yang runtuh mengirimkan 180 juta ton batu. Hal ini dapat mengakibatkan tsunami dengan gelombang mencapai 200 meter, menjadikannya sebagai gelombang tertinggi yang pernah dicatat.
    Dalam penelitian terbaru, para peneliti mengungkapkan bahwa penggunaan citra satelit dan pengukuran berbasis lapangan, tim dapat menemukan bila lereng tersebut menunjukkan tanda-tanda ketidakstabilan selama setidaknya dua dekade.

    “Bukti geologis dapat membantu (kita) memahami kejadian masa lalu dari peristiwa serupa dan mungkin memberikan peringatan,” tulis peneliti dalam jurnal Scientific Reports.
    Para peneliti menulis bahwa lereng telah merosot sejak tahun 1996 dan daerah tertekan yang disebut grabens—diciptakan sebagai permukaan bukit membentang ke bawah—telah terlihat dari atas sejak 1995. Hingga kini belum diketahui penyebab yang memicu kemiringan pada lereng tersebut.
    Tidak seperti tsunami biasanya, hasil yang ditinggalkan dari tsunami tersebut berupa endapan-endapan dalam tiga lapisan yang berbeda, satu terdiri dari pasir halus, satu terdiri dari batu-batu berukuran besar antara sekitar dua dan sepuluh inci (5 hingga 25 cm) dengan diameter dan batu-batu besar, dan lapisan akhir yang terbuat dari campuran semuanya dari pasir hingga batu-batu berdiameter 16 kaki (5 m).
    Melihat pola-pola akibat tsunami dan longsor dapat memberikan petunjuk baru tentang apa yang harus dicari dalam catatan geologis. Temuan ini juga mengisyaratkan cara untuk memantau lereng bukit yang tidak stabil karena perubahan iklim terus memaksa mundurnya gletser.
    “Lebih banyak tanah longsor seperti itu kemungkinan terjadi karena gletser gunung terus menyusut dan mencair,” tulis para peneliti.
    Dilansir dari Independent pada Senin (18/2/2019), penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Scientific Reports menggambarkan pentingnya memantau peristiwa-peristiwa ini untuk memahami dan mempersiapkannya untuk masa depan.
    “Tanah Longsor dan tsunami yang diprediksi oleh retret glasial di Taan Fiord mewakili bahaya yang disebabkan oleh perubahan iklim. Lebih banyak tanah longsor seperti itu kemungkinan terjadi karena gletser gunung terus menyusut dan mencair permafrost mencair,” tulisnya, dilansir dari Nationalgeographic.co.id.
     

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini

    - Advertisment -

    Most Popular