Setiap daerah memiliki budaya tersendiri yang berbeda dengan daerah lain. Beberapa negara atau daerah kadang memegang tradisi unik yang tak biasa, bahkan bikin bergidik. Salah satu tradisi unik itu seperti ritual adat Famadihana di Madagaskar.
Secara harfiah, tradisi asli masyarakat di dataran tinggi Madagaskar ini punya arti “membalikkan tubuh leluhur.” Famadihana bukan sekadar festival biasa untuk menghormati leluhur.
Di sini, leluhur atau nenek moyang yang sudah meninggal, turut ikut serta. Benar-benar ikut serta. Biasanya, acara kumpul keluarga hanya melibatkan anggota keluarga yang masih hidup.
Tapi bagaimana kalau keluarga yang meninggal juga diajak? Inilah esensi dari tradisi Famadihana. Mengajak seluruh anggota keluarga berkumpul dan bergembira bersama.
Suku Malagasi yang mendiami Pulau Madagaskar yang berlokasi di lepas pantai timur benua Afrika, percaya bahwa nenek moyang dan leluhur mereka tak boleh dilupakan. Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Famadihana digelar agar anggota keluarga baru, misal para menantu atau anak-anak, bisa menjumpai keluarganya secara langsung, meskipun nyawanya sudah tiada.
Membuka Mayat
Mayat-mayat yang terkubur diangkat lalu dibuka kain-kain pembungkusnya untuk diganti menggunakan kain sutera putih suci yang masih baru. Setelahnya, ritual adat Famadihana dimulai dengan menjamu para tamu dengan minuman, bercakap-cakap, memutar musik, sambil bersuka cita menari bersama.
Suku Merina di dataran tinggi Madagaskar percaya bahwa terdapat dua kelas sosial dalam lingkungan masyarakat Madagaskar. Pertama adalah mereka yang hidup dan kedua adalah para leluhur. Dan, bagi mereka yang telah meninggal namun belum melakukan ritual Famadihana, maka mereka ini belum bisa dimasukan dalam kategori leluhur atau pun mahluk hidup.
Mereka pun percaya, orang-orang yang telah mati baru akan mendapatkan kehidupan yang abadi saat tubuh dan tulang mereka benar-benar membusuk bersama cacing-cacing dalam tanah.
Dilansir dari CNN pada (26/3), sejarawan asal Madagaskar Andrianahaga Mahery mengatakan pertemuan dengan para leluhur merupakan momen yang membahagiakan. Alasannya karena suku Merina percaya bahwa para leluhur merupakan perantara antara manusia hidup dengan Tuhan. Leluhur ini diyakini memiliki wewenang untuk campur tangan dengan peristiwa yang terjadi di bumi. Maka, dalam perayaan ritual Famahadina ini tak boleh menampakan kesedihan.
Sanak saudara yang berasal dari berbagai daerah pun berdatangan. Biasanya, mereka datang dengan membawa uang dan minuman alkohol. Mereka berkumpul dan bergembira bersama.
Perayaan ritual Famadihana ini menghabiskan uang dalam jumlah besar. Bahkan, mereka rela mengeluarkan uang pemakaman lebih besar daripada rumah mereka sendiri. Melansir dari coastweek.com, salah seorang warga yang melakukan ritual adat Famadihana ini mengeluarkan lebih dari 5000 dollar atau sekitar 68,7 juta rupiah.
Hal ini dikarenakan pemakaman Famadihana merupakan identitas yang dijunjung tinggi dalam lingkungan sosial.[]





