Meski ditulis dan hits di era 90-an, novel Balada Si Roy yang dalam tahap produksi film, masih relevan untuk ditonton, dibaca, dan dinikmati kalangan milenial. Novel yang ditulis Golagong sejak 32 tahun lalu ini menawarkan nilai-nilai kebaikan yang masih bisa diterima generasi muda saat ini.
“Ada integritas di situ (novel Balada Si Roy-red). Ada melihat energi, integritas, kemudian berani bersikap, siap menerima konsekuensi. Itu saya kira yang harus dimunculkan makna-makna seperti itu. Menjadi anak muda tidak hanya berproses dalama konteks biologis, tapi ada habituasi baru. Ketika era anak-anak selalu dicekoki oleh orangtua, masa ketika peralihan anak-anak ke remaja, memang sikap tanggun jawab itu sudah harus muncul. Dan itu terlihat sekali dalam tokoh Roy,” jelas Dr Firman Hadiansyah, M.Hum, akademisi Untirta yang juga penulis novel ini saat menjadi narasumber program Bincang Hari Ini di Sultan TV, Jumat (18/12/2020).
Pemilik nama pena Firman Venayaksa ini mengangkat novel Balada Si Roy sebagai bahan kajian disertasinya. Angkatan pertama Kelas Menulis Rumah Dunia yang diasuh langsung oleh Golagong ini juga terlibat dalam pembuatan film Balada Si Roy yang diproduksi IDN Pictures dan disutradarai Fajar Nugros ini.
Berlatar tahun 80-90an, novel dan film Balada Si Roy dinilai masih bisa diterima dengan kebiasaan generasi muda saat ini.
“Sangat bisa diterima karena yang dimunculkan adalah gagasan sebetulnya dan ide, bagaimana sikap anak muda pada umumnya. Jadi melihat dari novel ini ketika difilmkan pun saya kira gagasan ini pun tetep hadir. Kalau dikaitkan dengan era sekarang masih relevan,” tutur Firman.
Relevansi novel dan film ini di kalangan milenial, bisa dilihat dalam kehadiran Dullah, peran antagonis yang merupakan anak jawara. Perkelahian yang dihadirkan antara Dullah dan seterunya dinilai anak muda banget. Bagian penting dari anak muda, tegas Firman, harus bisa ambil sikap. Sementara dari karakter Roy sang tokoh utama, mengajarkan integritas dan berani menerima konsekuensi setelah mengambil sikap.
Hal yang menjadi catatan, kata Firman, novel ini meskipun imajinasi dan berupa karya sastra tapi dalam prosesnya tidak segampang saat dibaca. “Penulis berusaha sedekat mungkin dengan pembaca,” jelasnya.
Kalau film ini berhasil, sukses, dan diterima masyarakat luas, menurut Firman bisa menjadi pemantik ranah kreativitas.
“Umumnya yang akan terlihat pada ruang-ruang kreatif. Itu biasanya orang yang sudah menonton film, ingin tahu tempat atau lokasi yang dimunculkan dalam film. Sebagai sebuah sampel muncul misalnya Laskar Pelangi, orang-orang berbondong-bondong ingin mengetahui Belitung seperti apa. Sekolahnya gimana,” tukas Firman.
Begitu juga di film Yowis Ben 1 yang memunculkan Malang dan Yowis Ben 2 yang memunculkan Bandung. Ini kata Firman, harus ditangkap sebagai oppurtunity bagi Pemprov Banten untuk memastikan bahwa akanaada residu yang lain efek dari kehadiran film ini di Banten.
“Apalagi memang di setting novelnya muncul Banten Lama, Kaibon, Speelwijchk, Royal, Yumaga, Anyer, dan seterusnya. Saya kira ini jadi side effect film ini. Saya kira orang-orang yang bekerja di ekonomi kreatif harus siap. Karena di situ muncul makanan rabeg dan sebagainya,” pungkas Firman. (sultantv-01)




