More

    TB Hasanuddin Tekankan Pentingnya Presidensi Indonesia Dalam G20 Untuk Menghentikan Perang Rusia-Ukraina

    JAKARTA – Perang Rusia-Ukraina menimbulkan efek domino dan menambah beban terhadap lonjakan harga-harga produk di Indonesia. Anggota Komisi II DPR, Mayjen TNI (Purn) Dr. TB Hasanuddin mengapresiasi langkah yang diambil Indonesia dalam konflik Rusia-Ukraina.

    Ia mendukung langkah pemerintah Indonesia turut mensponsori resolusi Majelis Umum PBB mengenai agresi militer Ukraina. Ia menilai langkah itu merupakan keputusan dan tindakan yang tepat dalam menyikapi invasi Rusia terhadap Ukraina.

    “Indonesia tidak bisa mengambil sikap pro Rusia maupun pro Ukraina, atau abstain sekalipun. Tetapi Indonesia mengambil sebuah sikap mendukung protes majelis Umum PBB yang menu nuntut penghentian aksi militer dan menarik mundur pasukannya Rusia,” tutur Hasanuddin dalam diskusi Pengaruh Konflik Rusia-Ukraina Terhadap Indonesia yang dilakukan secara daring, Senin (7/3/2022).

    Menurut Hasanuddin, hal tersebut sesuai dengan prinsip dasar bahwa Indonesia cinta damai, tetapi lebih cinta kemerdekaan dan demokrasi.

    “Bahwa negara manapun tidak boleh menyelesaikan masalah dengan senjata, dengan cara agresi,” katanya.

    Ia menilai, langkah yang diambil pemerintah Indonesia sudah benar. Karena menunjukkan penghormatan Indonesia pada tiga prinsip absolut yaitu kepatuhan pada piagam PBB, penghormatan pada kedaulatan dan integritas wilayah, dan non-use of force atau prinsip tidak menggunakan kekuataan militer.

    Menurut Hasanuddin, perang Rusia-Ukraina memiliki dampak besar kepada Indonesia, salah satunya adalah tingginya harga minyak dunia yang berpengaruh terhadap harga BBM.

    Ia menambahkan, rupiah berpotensi melemah seiring kekhawatiran naiknya harga bahan bakar. Maklum, konflik Rusia-Ukraina telah memicu kenaikan harga komoditas energi dan bisa menekan angka impor Indonesia jangka pendek.

    “Bagi Indonesia, Ukraina dan Rusia bukan mitra dagang terbesar. Tetapi potensi kenaikan harga menjadi ancaman bagi Indonesia akibat dari situasi Perang ini,” tuturnya.

    Menurut Hasanuddin, Indonesia dapat memanfaatkan posisinya sebagai presiden dan tuan rumah G20. Untuk dapat memimpin perdamaian Rusia-Ukraina dan mengajak negara-negara lainnya untuk mencari solusi perdamaian dunia.

    Sementara itu, Guru Besar Ilmu Politik dan Keamanan Universitas Padjajaran (UNPAD), Prof Muradi mengatakan, Indonesia sebaiknya menjadi penengah atas konflik Rusia-Ukrania.

    “Kita tidak dalam posisi aktif dan terlibat dalam konflik ini. Kita jangan terprovokasi dan terjebak dalam konflik ini. Yang harus di kedepankan adalah upaya perdamaian antara Rusia-Ukraina dan menyelesaikan konflik ini, bukannya meributkan keberpihakan,” tuturnya.

    Sebagaimana diketahui, Indonesia mengambil kebijakan luar negeri dengan Gerakan Non-Blok. Kebijakan ini muncul untuk menegaskan sikap politik luar negeri bahwa RI tidak mengikuti blok Amerika Serikat maupun blok Uni Soviet pada masa perang dingin. Hingga kini Indonesia memang menjadi negara non-blok. []

    Artikel Terkait

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini

    Stay Connected

    0FansSuka
    16,400PengikutMengikuti
    40,700PelangganBerlangganan
    - Advertisement -

    Artikel Terbaru