Juara di The Golok International Festival 2020, Assyifa Mengangkat Nama Baik Silat di Dunia Internasional

Keberhasilan perguruan silat Assyifa dari Banten menjadi juara di The Golok International Festival 2020 mendapat tanggapan positif dari tokoh dan masyarakat, khususnya di kalangan silat.  H. Aeng Haerudin, Ketua Dewan Pembina Asosiasi Pencak Silat Tradisional Indonesia (APTI) Propinsi Banten mengatakan, sempat terkejut, kaget, dan bangga begitu melihat ada salah satu video yang di-share di grup-grup WA.

“Video tentang Asyyifa yang dipimpin Pak Nukip ikut dalam festivaal golok Unesco. Dalam videonya memohon dukungan dan doa ke masyarakat Banten, agar pada kegiatan yang diikuti mendapat apresiasi dan juara. Kami mengapresiasi, mendukung, dan bangga,” jels pengurus besar APTI ini kepada SultanTV paada program Tokoh Bicara SultanTV, Jumat (25/9/2020).

Aeng mengambahkan, Asyyifa ini punya ide-ide punya kreasi yang bisa ditonjolkan melalui seni. Sehingga golok yang dimainkan saat melakukan silat, bisa diputar-putar begitu indahnya.  

Menurut Aeng, keberadaan golok pada tradisi silat di Banten, memiliki sejarah yang sangat penting. “Kenapa golok khasnya Banten? Pada sejarahnya, Sultan Hasanudin pada saat peperangan melawan Belanda, mengumpulkan empu-empu pembuat golok. Setelah dipilih, yaang terpilih adalah golok Ciomas karena punya kelebihan. Kalau sudah melukai manusia, sulit diobati. Racunnya menyebar. Golok Ciomas ini pun dibuat dalam tujuh mulud. Goloknya tidak putih, kelihatan tidak tajem, malah seperti berkarat. Tapi golok ini sangat tajam,” kata dia.

Keberhasilan Assyifa ini menjadi salah satu cara merawat tradisi. Dan sejalan dengan yang dilakukan APTB yang fokus membina seni bidaya dan seni budaya Banten. Meski begitu, kepedulian stakeholder atau pemerintah bagaimana bisa merawat seni tradisoninal termasuk silat yang dimiliki Banten juga penting. Itulah alasan Aeng meminta Gubernur Banten yang saat itu Rano Karno membuat peraturan gubernur, supaya silat masuk dalam kurikulum muatan lokal.

“Supaya para guru silat yang biasa ngajar di rumah, bisa ngajar di sekolahan. SDM yang melestarikan seni budaya perlu diperhatikan. Kami berharap, pelaku seni budaya tradisional Banten selain mengembangkan seni budaya juga membangun ekonominya,” jelasnya.

Ia berharap, mulok silat yang sudah pergubnya ini dilakukaan sebaik-baiknya. Pada pelaksanannya memberdayakan pelaku silat di daerah masing-masing. “Mulok silat dilaksanakan sesuai aliran masing-masing di daerah sesuai tingkatan dan sekolah, tidak mengkolosalkan satu aliran silat,” tegasnya.

Arya Bandayuda, Panglima Komando Pusat Peguron Jalak Banten yang berkantor pusat di Pandeglang juga mengapresiasi keberhasilan perguruan Asyyifa. Keberhasilan Assyifa juga dianggap mengangkat marwah peninggalan orang Banten. Arya juga mengatakan, mengenai festival golok internasional ini, pihaknya mendukung dan akan terus memberikan support. 

Sejauh ini, kata Arya, Jalak Banten yang mengambil dari nama peradaban era Kesultanan Banten dan didirikan pada 1996 memang konsen merawat tradisi Banten. Saat ini sudah ada  370 perguruan yang berdiri di bawah Jalak Banten yang didirikan KH Tubagus Sangadiyan ini.

“Jalak Banten ini ingin anak muda melestarikan budaya Banten. Saat ini Jalak Banten sudah ada di 23 propinsi dan sering mengadakan even-even kebudayaan, mengundang banyak perguruan. Ketua umum kami yaang mendanai,” jelas Arya yang juga menjadi pembicara program Tokoh Bicara SultanTV.

Untuk mendukung pelaku seni melestarikan tradisi Banten, Arya sepakat, memang harus ada peran serta pemerintah.

“Yang kami lakukan saat ini, merangkul perguruan-perguruan yang tersebar di berbagai tempat. Kami juga rutin melakukaan latihan gabung di kantor pusat di Pandeglang, setiap malam Jumat setelah beres tawasulan,” kata Arya. [sultantv]

(Visited 8 times, 1 visits today)

Artikel Terkait

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.