Dunia Boleh Kiamat, Tapi Jadi Penulis Belum Telat!

Beberapa tahun belakangan ini, saya kerap gelisah sendiri memikirkan bumi yang saya tempati. Ragam bencana telah datang bertubi silih berganti. Mulai dari yang menimbulkan kerusakan ringan sampai yang berat. Belum lagi tensi dunia sepertinya tidak menunjukan suhu dingin, melainkan kian memanas. Konflik dimana-mana. Kebencian tertanam semakin kokoh di setiap kepala. Dendam global pun saya yakin diam-diam sudah lama menyebar. Seperti percik api merambat dari kabel sumbu, saya takut kalau api itu sebentar lagi tiba di hulu ledak. Boom!

Dunia boleh kiamat, tapi kita tidak boleh patah semangat. Terus kejar mimpi-mimpi kita. Orang bijak mengatakan, jangan pernah berhenti di tengah badai. Kenapa? Karena kita hanya akan terjebak. Terus bergerak. Lintasi dengan gagah berani. Tetapi tetap pasang kewaspadaan. Masih ada waktu buat kita meraih kebahagiaan kita. Termasuk meraih kesempatan jadi seorang penulis. Jangan berhenti berusaha. Mari saya temani.

Pembaca yang galau, sebelum saya memaparkan bagaimana cara terbaik menurut yang saya alami dalam dunia tulis menulis, ingin sekali saya menceritakan bagaimana ‘jalan takdir’ membawa saya pada dunia yang sepi ini. Ya, sepi. Tapi sepi yang menyenangkan lho. Kenapa? Karena sebelum Tuhan mendatangkan kiamat betulan, sebagai penulis saya bisa menciptakan kiamat versi saya. Kok bisa? Bukankah penulis adalah tuhan kecil yang bisa memporakporandakan atau menata ulang sebuah peradaban dengan kuasa imajinasi yang beringas.

Dahulu kala, sumpah demi apa pun, sama sekali saya tak pernah membayangkan menjadi seorang penulis. Dahulu, jangankan berniat menjadi seorang penulis, ada profesi yang bernama penulis pun rasanya saya tidak tahu. Ternyata hari ini saya mengenal ragam orang bekerja dengan cara menulis; ada yang menulis cerpen, cerbung, novelet, novel, skenario atau script writer, penulis iklan atau biasa yang disebut dengan copywriter, dan banyak lagi.

Kenapa semua itu baru saya kenal? Ya karena saya kecil hanya mendengar tentang profesi guru, dokter, polisi, ABRI, insiyur, dan pilot, dari teman-teman saya di sekolah saat ditanya apa cita-cita mereka oleh guru di sekolah. Tidak ada satu pun yang bercita-cita menjadi seorang penulis. Dugaan saya saat itu adalah; menjadi penulis bukanlah profesi idaman sehingga namanya sendiri sudah dibuang dari benak anak-anak mereka.

Hari ini saya telah menekuni dunia tulis menulis. Bahkan saya mempercayakan soal periuk nasi dapur rumah saya dari profesi menjadi seorang penulis. Sudah beberapa profesi yang pernah saya jalani, tapi tetap saja saya lebih cinta menulis. Entah kenapa demikian? Yang jelas ada sensasi dan kenikmatan berbeda ketika mendapat uang dari pekerjaan yang saya sukai.

Saya pernah membaca sebuah pamplet di sebuah sekolah alam. Isinya mengatakan bahwa pendidikan itu hanya ada dua; pertama, pendidikan bagaimana cara anak mengenal Tuhannya dan kedua, pendidikan bagaimana cara si anak survive menjalani hidupnya. Dalam hal ini, saya fokus ke pendidikan yang kedua. Di pamplet itu dijelaskan sebenarnya kita selama ini membuang banyak waktu untuk mempelajari hal-hal yang tidak kita minati. Maksudnya?

Begini, ya. Benar juga sih kalau dipikir-pikir. Saya masih inget bagaimana tas saya sekolah tiap hari penuh dengan buku-buku pelajaran; Matematika, Kimia, Fisika, Biologi, Bahasa Inggris, Sejarah, dan lain sebagainya. Padahal yang saya suka hanya satu; Bahasa Indonesia. Lebih spesifik yakni pada pelajaran mengarang! Mengisi soal-soal yang bersifat essai, itu adalah sesuatu yang menyenangkan bagi saya saat itu, meski pun ternyata jawabannya salah semua. Intinya, dari dulu saya memang suka ‘ngoceh’ panjang luber di atas kertas. Iya, kan?

Nah, sayangnya, latar pendidikan orangtua saya yang tidak lulus SD, tidak bisa menangkap pesan Tuhan; bahwa Dia telah membekali saya dengan satu kecerdasan dari sekian banyak kecerdasan majemuk atau multiple intelligences yang konon dipelopori oleh Profesor Howard Gardner. Bekal apakah itu?

Jawabannya adalah kecerdasan linguistik! Ya, itulah pendidikan yang harusnya sudah saya tekuni sejak kecil setelah saya dikenalkan konsep tentang Tuhan oleh kedua orangtua saya, karena memang itulah yang saat saya jadikan pegangan hidup untuk saat ini. Tentu saja dengan ragam variasi dan tentakel-tentakel project berbeda tetapi tetap dalam satu garis besar passion yang memang saya sukai; menulis!

Nah, sampai di sini, jika kamu merasa senang pelajaran mengarang atau mengisi soal-soal esai berpanjang lebar meski ngawur, atau sering kirim-kirim bahasa puitis ke gebetan, atau bahkan mewek sambil curhat di buku harian, sejatinya Tuhan masih sedang diam-diam membekali dengan kemampuan hebat yang bisa dijadikan pegangan hidup di dunia bahkan di akhirat. Akhirat? Apa hubungannya menulis dengan akhirat? Sabar, nanti saya akan bahas di tulisan selanjutnya. Intinya gitu aja. Selamat datang wahai para calon penulis akhir jaman! Yeaah!

(Visited 42 times, 1 visits today)

About The Author

Baca Juga

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.