Norman Kamaru (Chaiya-Chaiya) Curhat di YouTube Soal Pemecatannya 8 Tahun Silam

Pihak Kepolisian Daerah (Polda) Gorontalo angkat bicara soal video curhatan Norman Kamaru terkait pemecatannya dari Polri yang kini viral.

Dilansir oleh TribunWow.com, tanggapan itu disampaikan oleh Kabid Humas Polda Gorontalo, AKBP Wahyu Tri Cahyono kepada TribunManado, Selasa (5/3/2019).

Menurut Wahyu, Norman Kamaru diberhentikan dengan tidak hormat (PTDH) sesuai dengan keputusan Kapolda nomor Kep/254/XII/2011 tanggal 29 Desember 2011.

Wahyu menjelaskan, Norman Kamaru terbukti melakukan pelanggaran, sehingga diberhentikan dari Polri.

“Saudara Norman terbukti melanggar pasal 14 ayat 1 (a) PP nomor 1 tahun 2003 tentang pemberhentian anggota Polri,” kata Wahyu.

Wahyu mengungkapkan, dari keterangan saksi, Norman Kamaru tidak melaksanakan tugas lebih dari 30 hari berturut-turut.

“Lebih dari 30 hari secara berturut-turut sejak 1 Agustus hingga 5 Oktober 2011 tanpa seizin dan sepengetahuan dari pimpinannya atau Kasatkernya Kasat Brimob,” sambung Wahyu.

Pihaknya juga membantah tudingan yang disampaikan oleh Norman Kamaru soal proses pemecatannya.

“Polda Gorontalo dalam memutuskan PTDH kepada saudara Norman Kamaru sudah melalui mekanisme sesuai dengan ketentuan yang berlalu berdasarkan pelanggaran yang telah dilakukan oleh saudara Norman,” ungkap Wahyu.

Curhatan Norman Kamaru 

Sementara itu, mantan anggota kepolisian yang terkenal dengan cover lagu India ‘Chaiya Chaiya’ Norman Kamaru, blak-blakan soal pemecatannya dari institusi Polri pada Selasa (26/2/2019).

Dilansir oleh TribunWow.com, curhatan tersebut ia sampaikan melalui kanal YouTube Norman Kamaru Channel.

Awalnya, Norman Kamaru menjelaskan bahwa masuknya video covernya di YouTube bukanlah kemauan dirinya.

“Dan saya enggak pernah niat jadi artis atau terkenal, setelah ‘Chaiya Chaiya’ itu booming, saya muncul di TV kan, di acara ini, itu,” kata Norman.

“Itu bukan kemauan saya sendiri, ingat, bukan kemauan sendiri! Itu semua perintah, perintah, perintah, enggak ada yang mau saya sendiri,” sambungnya.

Norman Kamaru kemudian menceritakan, semenjak dirinya terkenal, statusnya di institusi kepolisian menjadi aneh.

“Jadi aneh bagaimana ya? Saya jadi jarang ikut apel, apel pagi, apel siang, saya enggak bisa pulang ke rumah, hari libur pun enggak bisa pulang,” cerita Norman Kamaru.

“Dalam hati saya, kok saya seperti tahanan rumah ya,” tambah Norman Kamaru.

Norman Kamaru lantas membeberkan kronologi penangkapannya saat tampil di sebuah acara TV.

Menurutnya, saat menghadiri acara tersebut, pihaknya sudah izin ke atasan.

“Manajemen saya pun hadir ke Gorontalo untuk minta izin,” ujarnya.

“Saya sempat ngobrol dengan Kapolda dan dikasih izin, perintahnya kalau tidak salah harus didampingi anggota.”

“Tiba saat mau berangkat, surat izin saya tidak dikasih, tapi surat izin yang ngawal saya ini dikasih, saya jadi tanda tanya itu, maksudnya apa?,” terang Norman Kamaru.

Meski demikian, dia akhirnya nekat menghadiri acara.

Akan tetapi saat di acara tersebut, dirinya ditangkap dengan alasan tidak memiliki izin.

“Tapi saya diam saja, ikuti arus, sampai di kantor pun begitu, diambil BAP lah, saya mau jelasin di BAP itu, tapi tidak dikasih sama sekali,” ungkap Norman Kamaru.

“Harus ikut BAP Kasat, perkataan di BAP itu, aduh, kok menyudutkan, tapi enggak apa-apalah kan saya anak buah, perintah kan, mau bagaimana lagi, siap salah lah,” sambungnya.

Lebih lanjut, Norman Kamaru menceritakan selama ‘Chaiya Chaiya’ booming, di Gorontalo dirinya tidak pernah pergi ke mana pun.

Hal itu lantaran ia harus bertindak sesuai perintah.

Bahkan, ia sampai kabur tengah malam untuk bisa pulang ke rumah.

“Karena Sabtu Minggu pun saya enggak pulang ke rumah, enggak dikasih (izin) sama sekali, dengan alasan ‘Jangan Man kamu itu asetnya Kapolda’,” tutur Norman Kamaru.

Setelah bertenti sejenak Norman Kamaru melanjutkan ceritanya.

“Mau saya itu cuma satu, seperti polisi-polisi yang lain, sudah begitu saja.”

“Ingin seperti biasa, tugas seperti biasa, pulang rumah di hari libur, Sabtu Minggu, normal, tapi enggak pernah dikasih, ingat sekali lagi ini perintah.”

“Selama saya tugas itu di rumah Kasat, jadi selama itu saya tidak pernah apel pagi, apel siang,” beber Norman Kamaru.

Selama itu, ia hanya tidur menunggu perintah, seperti perintah untuk melayani foto-foto dan wawancara.

Ia pun mengaku curhat ke Kasat, hingga akhirnya diusulkan untuk mengurus surat pindah.

“Akhirnya saya ngurus lah, sampai 6 kali saya ngurus surat izin (pindah) sama Kasat, enggak pernah di-acc oleh Kapolda,” terangnya.

Oleh karena itu ia mengaku bosan dengan rutinitasnya yang tidak jelas dan terbatas.

Akhirnya ia memilih kabur dari asrama Brimob.

“Bisa dibilang saya kabur 5 hari kabur dari asrama ke luar daerah,” katanya.

Namun akhirnya ketahuan, dan memutuskan kembali.

Norman kemudian diminta tetap di rumah selama 3 hari, dengan janji akan diuruskan (kepindahan).

Setelah tidak ada kabar, orangtua Norman Kamaru ke Kapolda.

Orangtua Norman disebut menanyakan baik-baik kejelasan nasib anaknya.

“Tapi apa jawaban Kapolda? Sudah keluar saja (Norman), emosi dong orangtua saya, ngomong baik-baik dibalas begitu,” ujarnya.

Setelah itu, Norman Kamaru menjalani sidang etik penundaan pangkat.

Kemudian sidang kedua, yang menurut Norman Kamaru  sangat menyudutkan dirinya.

Dengan mata berkaca-kaca Norman Kamaru mengungkapkan rasa sakit hatinya.

Hingga pada akhirnya pada sidang ketiga, dirinya dipecat dengan tidak hormat.

 

(Visited 49 times, 1 visits today)

About The Author

You might be interested in

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *